Sabtu, 22 Februari 2014

CEWEK!!! VERSI IC PART 3 *REPOST NOVEL BY ESTI KINASIH

“Zevana itu siapa, Shill?” Ify langsung bertanya begitu pintu di depannya terbuka.
“Gue juga nggak tau,” sambil melebarkan daun pintu, Shilla menjawab ringan. Dua orang di depannya kontan menatap nyureng dengan kedua alis menyatu.
“Gimanasih lo!?” seru Ify dan Agni hampir bersamaan. Shilla tertawa geli.
“Ya emang gue nggak tau cewek itu siapa. Gini lho…” Shilla berjalan ke arah meja tamu dan menarik sebuah album foto dari bawahnya. “Ceritanya sih simple aja.Waktu lo bilang cowok tiga itu jebolan SMA Santo Martin, iseng gue pinjem album fotonya Zahra. Tau kan lo? Sepupu gue yang sekolah disana juga? Dan gue nemu ini…” Shilla menunjuk salah satu foto. “Nih, coba liat!”
Ifydan Agni langsung duduk di kiri-kanan Shilla. Dan mata mereka kontan membesar.Di foto itu, di depan spanduk besar bertuliskan “ACARA PELEPASAN”, diantara kerumunan manusia yang berebut untuk bisa terekam kamera, Alvin duduk di rumput. Menatap ke arah kamera dengan tawa lebar dan lambaian tangan kanan. Sementara tangan kirinya memeluk erat seorang cewek manis berambut panjang, yang dengan manjanya menyandarkan kepala di dada Alvin.
“Gile, mesra amat. Jadi ini yang namanya Zevana?” tanya Ify
Shilla mengangguk.
“Apa anehnya?” tanya Agni. “Mungkin ini emang ceweknya Alvin waktu itu, waktu dia belom kenal Sivia.Alvin sama Sivia jadiannya belom ada setaun, lagi. Ini acara perpisahan taun berapa?”
“Taun kemaren. Barengan kita lulus-lulusan juga.”
“Yah,Sivia sama Alvin belom jadian, Shill.”
“Ini prolog dulu, Ag. Yang sebenernya mau gue tunjukkin ke elo berdua tuh… ini!”dengan gaya penuh kemenangan, Shilla menarik sebuah majalah dari bawah meja, lalu membuka tengahnya. “Silakan diliat!”
Dengan kening terlipat, Ify meraih lembaran foto yang ada di tengah-tengah majalah.Seketika dia dan Agni ternganga. Foto-foto itu, foto-foto Alvin yang tengah memeluk Zevana. Zevana yang dibalut busana penari Jaipong, dengan bahu terbuka dan kostum yang membentuk tubuhnya seperti bas betot.
“Ini foto dua bulan lalu!” ucap Shilla dengan nada puas. “Waktu itu Zevana lagi pentas. Di Taman Mini, anjungan mana gitu. Gue lupa. Untuk diketahui, Zevana itu penari. Info ini gue dapet dari Zahra. Kata Zahra, Zevana kalo nari Jaipong, wiiiiih… heboh! Erotis, gitu!”
“Sivia juga penari,” kata Ify tanpa mengalihkan matanya dari foto-foto itu.
“Dankata Zahra mengutip dari anak ‘Pustaka dan Dokumentasi’, organisasi ekskul fotografi SMA Santo Martinlah yang dapet tugas dari sekolah untuk mendokumentasikan keikutsertaan wakil sekolah mereka di acara itu…,” sambung Shilla. “Abis acara itu, Zevana nangis-nangis bombai, trus besoknya nggak masuk sekolah sampe tiga hari!”
“Nggak masuk sekolah?” Ify dan Agni bertanya hampir bersamaan. “Dia belom kuliah?”Sambung Ify.
“Belom. Dia masih kelas tiga SMA!”
“Hah!?”Ify dan Agni berseru bersamaan.
“Kaget, kan? Kaget, kan?” Shilla meringis.Senang usahanya berhasil mengagetkan teman-temannya.
“Jelas Zevana ini ceweknya Alvin yang laen!” tegas Agni. “Orang dia sampe nyiptain tarian khusus segala. Kalo bukan pacar, ngapain lagi sampe begitu?”
“Iya emang? Tarian apaan sih?” tanya Shilla
“Lha, kan elo yang bilang waktu itu?”
“Bilang apa?”
“Yeee…!”Agni kontan melotot. Ify tertawa geli, sudah bisa menebak bahwa itu hasil karangan Shilla.
“jangan bilang waktu itu lo asal ngomong deh, Shill”
“Emangnya gue ngomong apa aja sih waktu itu? Soalnya gue lupa nih. Bener!”
“Lo kayak gak tau Shilla aja, Ag. Dia kan suka asal buka mulut.”
“Wah, emang nekat lo!” Agni ternganga. “Jadi lo ngomong blablabla panjang bener waktu itu, itu ngarang semua?”
“Sebagian besar. Zahra Cuma tau Zevana itu suka nari sama baca-baca novel Harlequin,gitu. Terus gue kembangin aja berdasarkan itu,” jawab Shilla enteng. “Gue ngarang mendadak tuh. Makanya sekarang lupa!”
“Yaampun!” Agni geleng-geleng kepala. “Kok bisa pas sih?”
“Zahra tau, yang pasti Zevana itu siapanya Alvin?”tanya Ify.
“Nggak. Orang dia nggak kenal sama tuh cewek. Nggak pernah sekelas. Tapi dia pernah ngeliat Zevana berkali-kali dijemput Alvin.Malah kalo jalan pake dipeluk segala. Kayak yang lo liat di foto-foto itu.”
“Wow…!”Ify dan Agni saling pandang sambil memainkan alis. “Mister Nice Guy-nya Sivia ternyata…” dua-duanya nyengir lebar.
***

Di areal parkir di depan gedung rektorat, Alvin duduk terdiam di belakang setir Jeep Wrangler cokelatnya sejak beberapa saatlalu. Ia masih tidak bisa percaya, rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat, terbongkar tiba-tiba. Harus dia cari tahu siapa cewek yang sudah datang ke kampus dan bikin gara-gara itu! Karena setelah dia ke rumah Zevana kemarin, cewek yang belum lama dilepasnya itu juga sama kagetnya.
Zevana mengaku telah bisa menerima cerita cinta mereka yang berakhir dua bulan lalu  itu, dan menjadikannya masa lalu. Ia tak ingin lagi berusaha mengingat, apalagi bertemu. Dan saat Alvin menyebutkan ciri-ciri cewek sialan itu, juga sama omongannya, Zevana geleng kepala. Mengatakan tidak mengenal cewek itu sama sekali. Bingung, kan?
Kepala Alvin langsung terangkat saat Kijang hijau tua yang ditunggunya muncul digerbang kampus. Buru-buru ditekannya klakson, memberi isyarat agar Ify parkir di sebelahnya.
“Wah, kayaknya dia tau kalo kejadian waktu itu gara-gara kita, Fy!” desis Agni.
“Gimanabisa?”
“Itu buktinya. Dia sengaja nungguin kita di sini. Gimana nih?”
Ify menatap Alvin yang kelihatan semakin tidak sabar. Tangan cowok itu melambai, minta mereka supaya cepat. Dengan cemas Ify menuruti perintah itu.
“Ada apa?” tanyanya dengan sikap yang dipaksa terlihat wajar.
“Soal cewek yang dateng ke sini waktu itu.”
Kedua cewek itu kontan tercekat, tapi buru-buru Ify menutupi kekagetannya itu.
“Iya,kan? Ketauanjuga lo akhirnya!” tukas Ify. “Dari pertama gue udah nggak percaya. Lo pasti Cuma pura-pura alim. Biar Sivia nggak curiga. Iya, kan?”
“Gue nggak perlu komentar lo. Gue nunggu di sini karena ada yang mau gue tanya. Dia bilang apa aja waktu itu? Sebelum nemuin gue.”
“Nggak ada. Dia Cuma nanyain kelas lo. Ya gue tunjukkin.”
“Cuma itu? Sivia nanya apa aja ke dia?”
“Sivia nggak ngomong apa-apa”
“Yang bener?”
“Bener!”
Alvin terdiam, kelihatan lega. Dia tidak tahu, kedua cewek didepannya juga merasa lega, karena tidak terbongkar merekalah biang keroknya.
“Lobisa nolongin gue nggak, Fy? Tolong cari tau siapa tuh cewek.”
“Kan dia disuruh sama Zevana. Lo tanyain si Zevana dong. Eh, tapi Zevana itu siapa sih?”
Alvin menyeringai. “Nggak akan gue kasihtau!”
“Nggak masalah.” Ify mengibaskan tangan. “Lagian siapa juga yang pengen tau? Sivia emang polos. Tapi gue nggak. Model kayak elo sih gue bisa baca!”
Agni ketawa. Tapi buru-buru diam begitu Alvin menatapnya tajam.
“Zevana nggak kenal tuh cewek!”
“Hah!?Nggak kenal? Ify berlagak kaget banget.  “Wah! Aneh banget tuh! Oke deh. Lo tenang aja.Ntar gue selidikin siapa cewek kurang ajar itu!”
“Kapan gue dapet kabar?”
“Ya nggak bisa dipastiin. Orang nyarinya kemana aja, kami belom tau. Pokoknya begitu udah kami temuin tuh cewek, secepetnya kami kasih tau elo”
“Oke kalo gitu. Gue tunggu. Thanks banget, Fy.”
“You’re welcome,” Ify menjawab manis.
Alvin pergi tanpa curiga. Dan begitu dia hilang di koridor utama kampus, Ify dan Agni kontan cekakakan sampai sakit perut. Dan agar niat mereka untuk menolong itu kelihatan serius, mereka berdua lalu menyatroni SMA Alvin dulu-yang juga SMA-nyaRio dan Cakka-SMA Santo Martin.
Ify dan Agni duduk di bangku semen di dekat gerbang dan mulai memerhatikan siswi-siswi SMA itu satu per satu. Mencari satu orang saja yang agak-agak mirip Shilla.
Ajaibnya…Ada lho! Kontan keduanya melongo begitu cewek itu melintas di hadapan mereka. Memang tidak mirip-mirip amat sih. Tapi tidak masalah. Yang penting ada target buat dijadikan kambing hitam!
Keduanya langsung melompat bangun dan diam-diam mengikuti dari belakang. Dan dari beberapa orang yang menyapa cewek itu, mereka jadi tahu nama cewek itu Dea.Tanpa buang waktu, Ify langsung lapor ke Alvin bahwa dia sudah menemukan oknum teroris itu.
“Namanya Dea, Vin. Anak Santo Martin juga. Tapi nggak tau kelas berapa.”
“Nggak apa-apa. Itu juga udah cukup. Thanks.”
Dan tanpa selidik lagi-malah tanpa buang waktu lagi- Alvin langsung menemui Zevana, memintanya untuk bicara dengan si Dea itu, Ify mengontak Shilla. Minta tolong supaya Zahra, sepupu Shilla yang sekolah di Santo Martin untuk memonitor.
Dan menurut laporan Zahra via Shilla, besoknya Zevana dan Dea ribut besaaar!
Zevana mendatangi Dea di kelasnya dan langsung mengamuk. Dia menbentak-bentak Dea saat kelasnya sedang ramai. Memaksa cewek itu mengaku, apa maksudnya mencari Alvin sampai ke kampus segala!
Sementara Dea yang tidak mengerti “ada apakah gerangan?” jelas saja tidak terima dimaki-maki di depan banyak mata begitu. Dia langsung balas marah-marah juga.
Perkembangan berikutnya benar-benar di luar dugaan. Zevana dan Dea muncul di kampus Universitas Sagarmatha.
“Siapa yang namanya Alvin!?”tanya Dea galak.
“Gue,”jawab Alvinbingung.
“Elo!?”seketika kedua mata Dea menyorot Alvin dengan tajam dan penuh kemarahan. Dia lalu melangkah mendekat dan pasang badandi depan Alvin persis. Meskipun badannya imut, mirip Shilla, tapi berhubung telah menjadi korban fitnah dengan sangat semena-mena, dia jadi tidak takut, “Apa maksud lo!?Kapan gue pernah dateng ke sini nyariin elo!? Siapa lo aja gue nggak tau.Jangan sembarangan dong lo! Dia marah-marah sama gue!” Tangannya menunjuk muka Zevana, dekat dan lurus-lurus. “Nuduh gue macem-macem. Gue udah punya cowok,tau! Ngapain juga gue ngerebut pacar orang!?”
Ify menarik Agni keluar dari kerumunan. Keduanya semakin memasang tampang se-innocent mungkin. Saat suasana kisruh begitu, Sivia menunjukkan satu poin lebihnya sebagai cewek yang dibesarkan di lingkungan aristokrat tulen. Dengan suara anggun, tenang, dan berwibawa, dipotongnya omelan Dea yang sudah seperti petasan renceng saking emosinya.
“Kita ngomong di tempat lain. Bisa ditahan emosinya sebentar, kan?”
Sivia, Alvin, sang “Sephia” Zevana, dan si “kambing hitam malang” Dea, lalu pergi entah kemana.
“Alviiin…Alvin… Ada-ada aja!” Cakka tertawa geli. Di sebelahnya, Rio menyeringai lebar. Tertawa tanpa suara.
“Ada apa sih? Siapa tuh cewek?” Tanya Ify dengan ekspresi muka setenang pemukaan danau pada saat angin malas bertiup.
“Nggak tau.” Kedua cowok di depannya geleng kepala bersamaan.
Lama juga. Setengah jam lebih baru Alvin kembali dan langsung menghampiri Ify.
“Bukan dia, lagi!” desisnya dongkol.
“Yaaa, sori deh, Viiiin…,” Ify berlagak menyesal telah salah tunjuk. “Abisnya gue lupa-lupa inget tampangnya. Namanya juga baru ngeliat sekali.”
“Kenapa nggak lo cari sendiri?” tanya Rio tajam. Tidak terima ceweknya disalahkan.
“Ck!”Alvin berdecak. Ingin marah tapi tidak tahu harus ke siapa. “Lo pada pulang duluan deh. Gue masih ada urusan!”
“Oke!”Cakka mengangguk, menahan tawa. “Udahlah, nggak usah disesalin. Dari dulu gue udah bilang, mendingan kayak gue. Punya belang kasih liat aja. Daripada kebongkar begini.”
“Dasar babon!” bisik Agni di kuping Ify.
“Yuk, balik! Balik!” ajak Rio sambil meraih tangan Ify. Berempat, kemudian mereka tinggalkan tempat itu. Juga Alvin yang mukanya lecek berat.
***

Ify baru pulang dari rumah Shilla bersama Agni, menyampaikan perkembangan heboh itu, waktu ibunya bilang bahwa seharian Sivia bolak-balik menelepon. Ify dan Agni saling pandang sesaat, lalu buru-buru berlari ke meja telepon.
“Kenapa dia nggak telepon ke HP sih?” ucap Ify sambil memutar nomor.
“Berarti dia shock berat, Fy. Sampe jadi bego!” jawab Agni sambil menarik kursi rapat-rapat ke sebelah Ify.
“Halo?Juminem? Ndoro Gusti kamu ada nggak? Ini dari Yang Mulia Ndoro Gusti Ify!”
“Elo, Fy!” Agni terkikik, tapi buru-buru menutup mulut. Takut terdengar orang disebrang.
“Halo?Ada apa, Vi?Kata nyokap gue, lo bolak-balik nelepon…? Iya, gue abis nganterin Agni. Lo kan tau dia paling nggak bisa kalo ngeliat ada kaus yang lucu. Pasti pengen punya… Oh, iyalah. Kaus ditoko. Bukan di jemuran orang. Kalo itu sih gue ogah nemenin. Bukan apa-apa.Tanggung soalnya kalo Cuma kaus. Mending sekalian sama jins atau seprai, gitu.Apalagi kalo bisa dapet baju pesta. Lumayan banget tuh!”
Sampai disitu, omongan Ify terputus tawa berderai Agni. Sementara Sivia Cuma tersenyum tipis. Sudah tidak kaget lagi dengan mulut Ify yang memang sering ngaco.
“Itu,Fy… waktu ke rumah gue itu, lo sebenernya mau ngomong apa?”
“Oh, yang waktu itu? Nggak. Gue Cuma mau ngasih tau lo aja, cowok-cowok itu ternyata pada bohong. Selama ini kan mereka selalu bilang kalo kegiatan-kegiatan itu Cuma untuk intern. Kalo nggak begitu, ya mereka ngasih alasan macem-macem deh. Kesannya orang awam gunung kayak kita-kita gini bakalan Cuma ngerepotin, nyusahin aja. Makanya gue punya rencana mau bikin mata mereka melek. Kalo Cuma naek gunung aja sih… kita juga bisa!”
“Terus?”
“Terus apanya?”
“Ya rencana lo itu.”
Sepasang mata Ify melebar. Si ningrat ini terbakar jealous juga akhirnya! Diacungkannya jempol ke Agni sambil mengedipkan mata. Lalu diubahnya suaranya seperti orang yang sudah pasrah.
“Yaaah, gimana ya? Setelah gue pikir-pikir, omongan lo itu ada benernya juga, Vi. Buat apa protes? Orang mereka dari dulu emang udah begitu. Ya udahlah. Terima aja.”
“Hmmm,begitu?” suara Sivia terdengar agak sedih, tapi Ify berlagak tidak paham.
“Iya,Vi. Begitu aja. Ngapain lagi pusing-pusing? Emang kenapa sih?”
“Nggak!Nggak apa-apa!” jawab Sivia buru-buru. “Tapi… waktu lo dateng ke rumah gue itu…lo udah punya rencana mateng atau baru gagasan?”
“Ya jelas planning mateng dong.”
“Besok pulang kuliah lo langsung ke rumah gue ya? Gue pengen tau.”
“Buat apa? Kan nggak jadi?”
“Nggak apa-apa. Gue Cuma pengen tau aja. Ya?”
“Iya deh. Terserah elo.”
Telepon di sebrang di tutup. Ify langsung tertawa keras-keras.
“Berhasil, Ag! Jealous juga dia akhirnya. Emangnya enak, dibohongin di belakang? Besok kita disuruh ke rumahnya. Di mau nanyain soal rencana gue itu!”
***

Jam dua belas tepat, kuliah hari ini berakhir.
“Makan siomay dulu yuk, Fy? Dari semalem gue belum makan nih. Terus abis itu kita makan dulu rujak sebentar.”
“Rujak melulu lo. Diare baru tau rasa. Kita makan di rumah Sivia aja. Pasti deh ntar ditawarin makan.”
“Tidak!Cukup sekali!”
Ify tertawa. Dia tahu kenapa Agni ogah. Mereka memang pernah makan malam di rumah Sivia. Sekali. Namanya ditawari makan, jelas saja langsung mereka sambut dengan girang. Barangkali saja mereka akan menemukan masakan zaman kerajaan-kerajaan dulu.
Tapi ternyata, suasana di meja makan di rumah Sivia jauh lebih khidmat daripada upacara tujuh belasan di Istana Negara! Mirip di film-film horror, begitu hening dan sunyi mencekam! Hanya bunyi desau-desau angin yang menggoyang pucuk-pucuk dedaunan di luar sana.
Gimana nggak? Makan tidak boleh sambil ngomong, apalagi cekikikan kayak kuntilanak.Mulut juga harus tetap ditutup. Bibir harus rapat dan baru boleh dibuka kalau makanan mau masuk. Saat sendok beradu dengan garpu atau piring, tidak boleh sampai mengeluarkan suara. Dan makannya juga harus sampai benar-benar bersih.Satu butir nasi pun tidak boleh ada yang tertinggal.
Alhasil,dimana-mana yang namanya habis makan kan biasanya jadi kenyang. Tapi kalau di rumah Sivia, habis makan malah jadi…puyeng!
Sementara itu Sivia sedang melamun di teras rumahnya, menunggu. Ini pertama kalinya dia membuka diri. Tadinya dia berpikir, dirinya takkan pernah membutuhkan Ify dan Agni. Karena di mata Sivia, dua cewek itu benar-benar cewek kasar! Tipikal masyarakat golongan kasta rendah. Urakan, tidak tahu tata karma. Kalau bicara seenak udel. Ketawanya juga mirip Buto Ijo! Kalau bercanda tidak peduli tempat,tidak peduli situasi. Meskipun sedang makan, mulut penuh, keduanya bisa saling mencela dengan sangat seru dan riuh.
Dan yang sempat membuat Sivia shock, tiba-tiba saja dia dianggap bukan siapa-siapa.Ify dan Agni sama sekali tidak terkesan dengan darah biru tulen dan gelar kebangsawanan di depan namanya. Boro-boro hormat seperti kebanyakan orang memperlakukan dia dan keluarganya. Memandangnya saja dengan sebelah mata.
“Permisiii…”
Sivia tersentak dari lamunan. Dia berdiri dan segera melangkah menuju pintu gerbang.
“Masuk,”ajaknya. Ify dan Agni melangkah masuk dengan tertib lalu duduk dengan sopan dikursi teras.
“Makan dulu yuk? Udah jam satu lewat nih”
Keduanya kontan menjawab kompak, “Nggak usah, Vi. Terima kasih. Kami udah makan kok.Nggak usah repot-repot deh.”
“Ya udah kalo begitu,” Sivia tidak memaksa. “Kita ke kamar gue aja yuk?” Dia berjalan ke dalam. Ify dan Agni buru-buru berdiri dan mengekor di belakangnya.
“Jadi rencana gue itu begini, Vi,” Ify langsung menjelaskan rencananya, setelah mereka duduk berhadapan di dalam kamar. Tentu saja dengan tidak lupa berakting seolah-olah dia sudah tidak ada niat untuk balas dendam lagi. Seperti kebiasaannya, Sivia mendengarkan tanpa menyela, sampai Ify selesai menjelaskan semuanya. “Begitu, Vi, rencana gue.”
Sivia mengangguk lambat-lambat. Ditatapnya dua wajah di depannya. Tanpa dia tahu,wajah-wajah itu Cuma polos luarnya aja.
“Kalo kita jadiin, gimana?” tanya Sivia.
“Maksudnya?”tanya Ify, dalam hati siap sorak-sorak.
“Maksudnyaaa…ya kita bikin mata mereka melek!”
Wajah-wajah di depannya langsung tersentak dan menatapnya lurus. Tidak percaya.
“Bener nih? Lo setuju?” seru Ify tertahan.
“Iyadong! Cowok-cowok kita kanpada kompak. Jadi kita harus kompak juga!”
************************************


CEWEK!!! VERSI IC PART 2*REPOST NOVEL BY ESTI KINASIH

Begitu mendapatkan hot news yang benar-benar hot itu, dengan penuh semangat Ify dan Agni segera meluncur ke rumah Sivia. Keduanya sudah sangat yakin bahwa berita menggemparkan itu juga akan membuat Sivia tercengang. Dan Sivia tidak akan lagi berpihak kepada Rio dan kedua sobatnya, Cakka dan Alvin.
Perlu diketahui, sudah lama Ify melancarkan aksi protes soal terlalu seringnya Rio cspergi ke A, B, C, D, E, dan ke banyak tempat lagi, tanpa satu kali pun maumengajak. Hanya membawa oleh-oleh cerita, itu pun sering kali tidak lengkap.Sangat tidak lengkap malah. Tapi bukannya membela Ify dan Agni yang notabene sesama cewek, Sivia justru selalu berada di pihak Rio cs. Gimana aksi kedua cewek itu tidak selalu gagal kalau hasil akhir voting selalu dua lawan empat!
Mending kalau Sivia mendukungnya Cuma dengan ngomong ‘iya’ atau anggukan kepala. Sivia tuh selalu saja memberi nasihat. Selalu saja memakai wejangan. Gimana kekalahan tidak menjadi semakin telak, dinasihatinya panjang-panjang soal kodrat laki-laki dan perempuan di depan cowok-cowok yang justru anti-emansipasi!
“Ternyata mereka selama ini bohong, Vi. Katanya nggak pernah ada cewek yang ikut. Nggak taunya banyak. Apalagi Stella. Tuh cewek nggak pernah absen! Iya kan, Ag?” kata Ify.
“Bener banget!” tandas Agni langsung.
“Dan cewek-cewek yang ikut itu ternyata juga bukan yang model-model Angel atau Nova,gitu. Bukan cewek-cewek macho. Mereka sama aja kayak kita.fisiknya pas-pasan.Makanya selalu aja ada yang sakit. Malah ada yang sampe pingsan!” Ify meneruskan hasutannya.
“Betul!”tandas Agni lagi.
“Dansi Stella itu pakarnya pingsan, Vi. Apalagi di depan cowok yang diincer. Waaah,pingsan mulu dia! Biar ditolongin, diperhatiin, dijagain. Dan lo tau sendiri kan, kalo cowok udahsampe ditaksir sama cewek satu itu? Wassalam! Udah nggak bisa diapa-apain lagi.Tinggal bisa didoain doang, semoga tahan godaan.”
“Tapi gue nggak percaya Alvin akan begitu,” Ucap Sivia tenang.
“kita bukan lagi ngomongin Alvin,Vi. Tapi Stella! Steeella! Kita kudu jaga-jaga. Itu maksud gue!”
“Jaga-jagakan bukan berarti kita harus ikut. Ya kayak yang lo bilang tadi. Di doain. Gue rasa cukup. Malah lebih manjur.”
Didoain doang!? Ify melotot. Ini anak udah kayak emak-emak aja!
“Longgak takut, Vi?”
“Nggak.”Sivia geleng kepala.
Ify berdecak. Saling pandang dengan Agni. Sudah waktunya mengeluarkan hot news!
“Gue dapet informasi yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, Vi,” katanya,dengan nada sungguh-sungguh dan ekspresi muka sangat serius. “Katanya, Stella sampe pernah… bugil! Di depan Cakka!”
Sivia kontan ternganga. Tapi hanya sesaat. Setelah itu dia tersenyum geli. Hampir tertawa, tapi buru-buru ditutupnya mulutnya dengan telapak tangan.
“Siapa yang bilang begitu? Nggak mungkin itu. Pasti bohong. Isu, gosip.”
“Cakka sendiri yang ngomong, Vi. Dia cerita sama gue kok. Bener!”
“Bohong itu, Ag. Jangan percaya.”
“Tapi Cakka sendiri yang ngomong!” Agni ngotot. Kedua matanya sampai melotot.
Tapi Sivia tetap Cuma senyum - senyum. Tetap tenang. Tidak terbakar sama sekali.Benar-benar jauh dari perkiraan Ify dan Agni, bahwa dia bakalan shock apalagi pingsan, percaya seuprit juga nggak!
“Itu udah pasti berita bohong. Kalian berdua mikir dong. Emangnya itu nggak menghancurkan nama dan harga diri?”
“Tapi…”
“Udah.Udah,” potong Ify, menghentikan protes sahabatnya. “Okelah, kita anggap itu bohong. Tapi sekarang kita tau, ternyata setiap mereka pergi itu ada ceweknya!Nah, pertanyaannya…” Ify menatap Sivia lurus-lurus. “Kenapa mereka nggak pernah mau ngajak kita?”
“Gue punya jawabannya.” Sivia tersenyum lebar, agak geli. “Mau denger?”
“Apa?”
Sejenak Sivia menatap ke luar jendela. Kedua temannya ini memang tidak tahu batasan.Tidak bisa mawas diri. Meskipun pacar, orang yang paling dekat, tetap ada garis yang tidak bisa dilanggar. Perempuan itu harus tahu kodrat!
“Sini ta’ kasih tau,” Sivia memulai wejangannya. “Mereka pasti punya alasan untuk nggak ngajak kita.”
“Alasannya,jelas karena mereka nggak mau direpotin! Apa lagi?” jawab Ify cepat.
“Bukan juga. Aku, eh, gue liat bukan itu. Mereka itu kan emang senengnya kegiatan – kegiatan keras begitu. Sementara kita…,” Sivia mengangkat kedua alisnya, “boro-boro!”
“Kan bisa belajar!”
“Belajar emang bisa. Tapi untuk apa, coba? Kalo tujuannya Cuma untuk menyaingi mereka,gue rasa nggak bagus. Kegiatan-kegiatan yang kayak begitu kan emang udah dunianya cowok. Kalopun ada ceweknya, itu cewek-cewek yang pada dasarnya emang bener-bener suka. Bukan karena ikut-ikutan atau punya tujuan lain. Jadi nggak usahlah kita ribut.Nuntut ini, nuntut itu. Jadi perempuan itu mesti tahu kodrat, Fy. Kamu juga,Ag. Mesti bisa mawas diri. Mesti tahu mana yang pantes dan mana yang nggak.”
Iiiuuugh!Ify mendesis pelan. Jadi tambah dongkol lagi.
“Terusjuga…,” sambung Sivia. Kali ini nada suaranya sangat hati-hati. “Mereka itu kan udah semester enam,dua tahun lebih tua dari kita. Jadi elo seharusnya manggil Rioitu ‘Mas Rio’, Fy. Elo juga, Ag, jangan panggil ‘Cakka’ gitu aja. ‘Mas Cakka’ atau‘Bang Cakka’ kalo pake adat betawi. Atau ‘Kak Cakka’-lah kalo elo malu panggil dia ‘abang’.”
Ify dan Agni sontak terperangah.
MasRio? Abang Cakka? Oh, Tuhan… berikanlah petunjuk-Mu kepada teman kami yang sungguh sangat budiman ini! Keduanya berdoa dalam hati dengan kata-kata yang nyaris sama.
Sivia kemudian meneruskan kalimatnya, tak peduli dengan sorot kengerian di dua pasangmata di depannya akibat kata-katanya barusan.
“Kita harus hormat pada orang yang lebih tua. Apalagi –kalo langgeng nih- mereka akanjadi calon suami. Dan selamanya, suami adalah tuan!”
Makin tercenganglah Ify dan Agni.
Oh,no! No! Tidak! Tidak!!!
Benar-benar deh, si Sivia ini ternyata memang produk zaman Majapahit!
***

“Sivia itu kok bisa sampe kuno banget gitu ya, Fy? Amit-amit deh!” Agni geleng-geleng kepala.
“Emang!Sebel!” dengus Ify.
“Pantesan aja Alvin cinta mati sama dia. Hari gini bo, dimana lagi bisa dapet cewek kece, tajir, tapi geblek banget gitu! Lo denger tadi? kita disuruh manggil cowok-cowok itu ‘Mas’atau ‘Abang’ ? kebayang nggak sih lo? Bang Cakkaaaa!?” Agni membelalakkan matanya lebar-lebar. “Gue pilih nyikatin Monas dari tangga paling bawah sampe ke ujung emasnya, daripada manggil Cakka ‘Abang’!”
“Iya,emang gila tuh anak!” Ify serentak bergidik. “Hampir aja gue epilepsi dengerusulnya tadi.”
“Jadi sekarang gimana nih?”
Ify mendecakkan lidah, lalu mengetukkan jari-jarinya di dasbor. Mencari akal bagaimana caranya melibatkan Sivia ke dalam rencana besar mereka. Harus! Karena kalau tidak, itu akan jadi bahaya besar. Bukan karena Sivia tukang ngadu, tapi karena cewek satu itu terlalu polos dan sama sekali tidak bisa berbohong.Selama ini dia kena hasutan Rio dan Cakka dengan gampang dan sukses. Kalau kedua cowok itu merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan cewek-ceweknya, mereka akan langsung mencari tahu lewat Sivia.Dan Sivia, dengan falsafah hidup “Bohong itu dosa”, jelas saja langsung membeberkan semua yang dia tahu.
Makanya,setelah tahu bahwa Sivia ternyata sangat “berbudi luhur” begitu, Ify dan Agni jadi ekstra hati-hati. Jangan sampai kelepasan ngomong di depannya.
“Ah,iya! Ya ampun!” seru Agni. “Gampang banget, lagi. Kita minta tolong Shillaaja.”
Ify terbelalak sesaat, lalu dipukulnya kuat-kuat jok yang didudukinya.
“Ide lo brilian banget! Puter arah, Ag. Kita ke tempat Shilla sekarang!”
“Oke,Bos!”
***

Shilla itu teman sekelas mereka waktu kelas 1 SMA. Seru banget sekelas sama dia.Mukanya sih sangat-sangat kalem. Cenderung innocent malah. Badannya juga imut,kecil.*ini gak sesuai*abaikan. Tapi, kalau kelas jadi rebut atau ingar-bingar,75 % itu pasti gara-gara dia.
Shilla langsung ketawa-ketiwi begitu Ify menceritakan maksud kedatangannya. Dia memang paling senang kalau ada yang minta pertolongan model-model begitu.
“Itu sih gampang. Urusan gini aja pake nyari gue.”
“Nggak usah sok penting deh lo!” Ify menjitak kepala temannya. “Ada alasannya kenapa kami sampai terpaksanyariin elo. Tapi itu ntar aja. Cerita lengkapnya menyusul.”
Sekali lagi Shilla memerhatikan tiga lembar foto yang tadi diserahkan Ify padanya.Foto-foto Rio, Cakka, dan Alvin.
“Okedeh!” dia acungkan satu jempolnya. “Serahin ke gue!”
***

Dua hari kemudian Shilla muncul di kampus Universitas Sagarmatha. Dia langsung menuju gedung Fakultas Ekonomi dan menghampiri tiga cewek yang sedang duduk disatu bangku panjang, dengan lagak kebingungan.
“Ehm,maaf. Fakultas Perminyakan dimana ya?”
“Di gedung belakang,” jawab Ify, pura-pura tidak kenal. Shilla memang sudah memberitahukan rencana kedatangannya lewat telepon tadi malam. Karena itu siang ini Ify dan Agni memaksakan diri bermanis-manis menemani Sivia, agar Shilla  tidak kebingungan mencari targetnya. “Cari siapa?” tanya Ify.
“Alvin”
Sepasang mata Sivia langsung melebar. “Alvin?”tanyanya.
“He-eh,”jawab Shilla centil. Membuat kedua mata Sivia jadi semakin lebar lagi.
“Alvin Jonathan Sindunata?” Sivia mulai antusias.
“he-eh.Keren banget ya namanya?” Shilla mengedipkan mata kirinya sambil senyum-senyum bangga. “Kenal juga ya? Tapi tuh cowok dari dulu emang ngetop. Wah, pokoknya udah kayak selebriti deh!”
“Mbak ini… siapanya? Dulu… pacarnya?” suara Sivia langsung putus-putus.
“Emangnya kenapa?” Shilla menatap Sivia tajam. “Dia punya pacar!?” tanyanya galak. “Awas aja kalo tuh orang sampe punya pacar!”
Muka Sivia kontan pucat. Sementara Ify dan Agni langsung bengong. Bengong sungguhan karena mereka berdua memang tidak tahu sandiwara Shilla. Soalnya semalam ditelepon, Shilla hanya mengatakan akan datang ke kampus, tanpa mau menjelaskanapa yang akan dilakukannya. “Pokoknya surprise deh!”, Cuma itu kalimat penutupnya.
“Okedeh. Makasih ya, informasinya. Yuk, dadah!” Shilla melenggang pergi. Tapi tak lama dia balik lagi. “Di mana tadi kelasnya? Saya lupa.”
“Emang belom dikasih tau!” jawab Ify agak kesal. Agni meringis. “Di gedung belakang.Yang di tempat parkirnya ada pohon cemara. Lantai tiga. Tapi biasanya dia sukanongkrong di ruang senat.”
“Okedeh. Makasih ya? Daaaaah.”
Shilla pergi. Melenggang dengan gayadibuat-buat.
“Ngapain dia nyariin Alvinya?” Ify mulai mengipas bara.
“Tautuh. Centil banget, lagi. Siapa sih tuh cewek?”Agni langsung membantu.
Sivia terus menatap Shilla dengan ekspresi muka yang susah dibaca. Tiba-tiba dia berdiri.
“Yuk!”ujar Sivia tiba-tiba.
“Kemana?” Ify berlagak bego.
Sivia tidak menjawab. Dia tidak tahu, dua orang di belakangnya mengikuti sambil meringis dan saling main mata.
Sementara itu Alvinbingung ketika tiba-tiba saja seorang cewek yang sama sekali tidak dikenalnya mendatanginya. Apalagi cewek itu bertanya dengan suara mendesah dan gaya yang begitu menggoda.
“Alvin, ya?”
“Siapalo?” tanya Alvin dengan kening berkerut.
“Kenalin,”Shilla mengulurkan tangan kanannya, masih sambil menebarkan senyum genitnya yang disambut ragu oleh Alvin,“gue kurirnya Zevana yang baru!”
Alvin tersentak. Mukanya kontan pucat dan genggaman tangannya terlepas.
“Ng…maksud lo?”
“Guedimintain tolong sama Zevana buat nyariin elo. Kalo udah ketemu, gue disuruh bilang, elo disuruh ke rumahnya. Penting katanya. Elo kemana aja sih? Sampe dia mengiba-iba ke gue dengan sangat mengenaskan, minta tolong supaya gue nyariin elo. Elo tau nggak? Itu anak sampe sakit, katanya gara-gara lo udah nggak pernah dateng lagi. Jadwal pentasnya sampe banyak yang dibatalin, tau nggak?Elo jangan gitu dong! Habis manis sepah dibuang. Elo dulu kan bilangnya cinta mati sama dia. Dan hanya maut yang akan memisahkan kalian! Gitu kan janji basi lo? Makanya sampe Zevana nyiptain tarian khusus buat elo, waktu elo lulus-lulusan dulu banget itu. Terus dia nyiptain tarian baru lagi, khusus buat elo lagi, waktu instingnya merasa sesuatu telah terjadi. Jangan bilang udah lupa deh! Jadi…” Shilla sengaja memenggal kalimatnya untuk meningkatkan intensitas ketegangan di sekitarnya. “Elo ditunggu. Secepatnya!”
Alvin semakin pucat. Gelisah diliriknya sekeliling.
“Yaudah. Cuma itu doang. Oke, ya? Bye!” Shilla langsung balik badan. Alvin buru-buru mencekal satu tangannya. Tapi cepat dia lepaskan lagi saat tidak sengaja menoleh, mata dingin Sivia menyorot tajam. Akhirnya cowok itu bingung mau ngomong apa.
“Apaaa?”tanya Shilla pura-pura tak sabar. “Sori nih, gue buru-buru banget. Mendingan lo temuin aja deh tuh… si Zevana. Dia nyari-nyariin lo udah dari kapan tau. Ntar gue dikira nggak usaha, lagi. Oke? Dateng bener lho ya. Jangan sampe nggak.Kasian dia. Ntar dia sakit lagi.” Ditepuknya satu bahu Alvin, lalu buru-buru pergi. Tinggal Alvin berdiri kikuk di tengah lima orang yang menatapnya dengan sorot mata yang semakin tidak mengerti.
“Siapa,Vin?” tanya Cakka.
Alvin langsung memberi isyarat untuk tidak bertanya. Lembut, digamitnya lengan Sivia.
“Kita perlu ngomong, Vi,” katanya halus. Dan dibawanya Sivia pergi dari situ.
***


Followme on twit
@SilviaNRG :)



CEWEK!!! VERSI IC PART 1*Repost Novel by Esti Kinasih





~Langen = Ify
~Fani = Agni
~Febi = Sivia
~Rei = Rio
~Bima = Cakka
~Rangga = Alvin
**************************************************************************



Pintu dan semua jendela sekretariat Maranon,organisasi pecinta alam Universitas Sagarmatha, tertutup rapat saat Ify dan Agni tiba sore itu. Kedua cewek itu tidak bisa mengetahui apa yang sedangterjadi di dalam ruangan, karena seluruh tirainya membentang, menutupi semua jendela yang ada.
“Rapat lagi kayaknya nih!” desis Ify jengkel. “Gimana, Ag?”
“Tungguin ajalah,” kata Agni. Tidak tega mau ngajak Ify pulang.
Tapi setelah keduanya menunggu berjam-jam sampai nyaris lumutan,begitu pintu itu terbuka, eeehh… orang yang ditunggu dengan enteng malah menyuruh mereka pulang. Setelah sempat terperangah di ambang pintu, dengan langkah-langkah cepat Rio segera menghampiri Ify dan Agni yang duduk bersila di lantai koridor.
“sori, Fy. Aku ada rapat. Sampe malem kayaknya. Kamu nggak apa-apa kan, pulang sendiri?” ucapnya tanpa rasa bersalah. Jelas Ify langsung emosi.
“Nggaaak. Nggak apa-apa kok. Rapat aja lagi… sampe besok. Tanggung kalo Cuma sampe malem!”
“sabtu depan kita jalan. Aku janji”
“sabtu kemaren kamu juga ngomongnya begitu!”
“Sabtu kemarennya lagi juga!” Agni langsung menimpali.
“Juga sabtu kemarennya dan kemarennya daaan kemarennya!”
Rio nyuekin celetukan Agni.“Tapi sabtu depan bener, Fy. Janji!” tegas Rio.
“Siapa yang percaya?” sentak Ify. “Pulang yuk, Ag!”
“Fy, please? Jangan ngambek gitu dong.” Rioburu-buru meraih tangan Ify, tapi langsung ditepis oleh si pemilik tangan.
“Aku nggak ngambek! Aku marah, tau!” Ify hampir menjerit.
“Tapi aku janji…”
“Nggak! Aku nggak mau denger!”
Harapan Rio langsung beralih ke sahabat karib Ify.
“Ag, tolong jelasin ke Ify, ya? Sabtu depan bener!”
“Elo jelasin sendiri. Enak aja. Lagian juga paling lo bohong lagi.Kayak gue nggak tau elo aja!” tolak Agni mentah-mentah.
“Sori ya, sayang? Aku nggak bisa dateng lagi nih…” Cakka, sahabat Rio yang sejak tadi hanya berdiri diam di ambang pintu,menatap Agni dengan ekspresi “betapa apa yang baru saja dikatakannya tadi telah membuat hatinya sangat sedih”. “Padahal aku kangeeen banget sama kamu”.
“Ih!” Agni langsung buang muka. “Siapa juga yang ngarepin lodateng?”
Cakka jadi tertawa geli. Kalau saja di sekitar mereka tidak banyak orang, pasti sudah dibekapnya cewek yang telah berhasil dipaksanya untuk jadi pacarnya yang teranyar itu. Lalu diberinya satu ciuman!
Terpaksa Rio dan Cakka membiarkan Ify dan Agni pergi dari hadapanmereka.
***


“Mereka emang gitu, Fy. Udah… nggak usah dipusingin,” hibur Agni,ketika mereka sudah meninggalkan sekretariat Maranon.
“Iya sih, tapi yang bener aja dong! Udah berapa kali malem minggu,coba? Tiap Sabtu-Minggu pasti ada acara. Datengnya malah Malem Jumat. Emangnya gue sundel bolong?”
Agni meringis. Tiba-tiba disikutnya pinggang Ify.
“Liat, tuh. Si Gusti Randa Ajeng Sivia.”
Ify melirik sebal. Raden Ajeng Sivia Kesumoningrat atau yang biasadipanggil “Sivia” itu ceweknya Alvin.Alvin itu ya masih komplotannya cowok dua tadi. Sivia termasuk cewek antik. Masih trah bangsawan atau ningrat. Katanya sih dia dan keluarganya masih keturunan langsung prabu siapa, gitu. Dibilang antik, soalnya itu cewek lembutnya minta ampun. Jalannya luamaaa. Ngomongnya juga pelaaan. Dan yang paling aneh, kalau ketawa nyaris tanpa suara! Itu juga jarang. Paling sering Sivia Cuma senyum-senyum doang.
“Mau ikut jalan, Vi? mending malem Minggu-an sama kami, daripada bengong sendirian”
“Aku mau kursus nih. Maaf ya,” tolak Sivia halus. Lalu dengan santun dia pamit.
“Sebel banget gue sama tuh cewek. Sok bangsawan banget!” dengusIfy.
“Iya emang!” Agni mengangguk. “Tau gitu kenapa lo ajak dia tadi?”
“Basa-basi doang. Nggak bakalanlah dia mau. Ntar bisa turun diapunya kasta!”
“Lagian juga dia pasti bohong. Kursus apaan Malem Minggu gini?”
“Kursus masang konde, kursus pake kebaya, sama kursus ngeracik jamu-jamuan,” dengus Ify lagi.
Agni terkekeh geli.
Ify berdecak. “Kalo gue pikir-pikir, tuh cowok tiga kurang ajarbanget deh. Seenaknya sendiri aja. Mereka pikir kita tuh apa sih?”
“Ah, udah deh… nggak usah dipikirin. Mendingan kita jalan-jalan.”Agni merangkul bahu sahabatnya dan membawanya ke tempat parkir utama kampus, didepan gedung rektorat, tempat Ify meninggalkan Kijang-nya tadi siang.
***


Senin siang, di tengah ruang sekretariat Maranon,Lintar, salah seorang anggotanya, sedang duduk di salah satu meja. Menghadap keseisi ruangan.
“Waktu SMA, gue pernah bikin acara marathon gunung. Khusus yang tingginya di atas tiga ribu DPL. Waktu itu lima gunung. Start di Pangrango, lanjut keCireme, nyambung ke Slamet, terus ke Sumbing, dan finish di Merbabu. Serubanget, gila! Yang berhasil ngabisin lima-limanya Cuma tujuh orang. Padahal pesertanya hampir empat puluh. Usul gue, gimana kalo kita bikin acara kayakgitu? Nanti libur semesteran. Biar tambah seru dan dahsyat, kita abisin Pulau Jawa! Gue udah ngitung, semuanya ada sekitar sebelas gunung. Gimana?”
Wajah-wajah di sekitarnya menatap ternganga. Lalu…
“SETUJUUUU!!!”
Gemuruh teriakan membahana seketika. Membuat sekretariat Maranon tenggelam dalam ingar-bingar.
“Dan usul gue lagiii…!!!” seru Lintar. Dipukul-pukulnya whiteboard dengan batang kayu. Ruangan mendadak sepi. Semua kepala menoleh ke arahnya.“Minggu ini kan ada libur dua hari. Tiga hari sama hari Minggu-nya. Gimana kalo kita pemanasan?Maraton Salak-Gede-Pangrango?”
Dan lagi-lagi…
“SETUJUUUU!!!”
Kembali ruangan itu dipenuhi suara riuh. Di salah satu sudut, tigacowok sibuk mendiskusikan bagaimana caranya memberi tahu cewek masing-masingbahwa –Sialnya lagi-lagi!- malam Minggu ini terpaksa absen!
Rio yang paling pusing. Diasudah bisa menebak seperti apa respon Ify nanti. Cakka sebaliknya, justru kecewa. Karena dia tahu benar, Agni pasti benar-benar bersyukur dia tidak muncul. Sementara Alvin seperti biasa, tenang. Karena Sivia-nya yang tersayang adalah cewek aristokrat yang tidak pernah diajar untuk menuntut. Jadi aman.
***


“Alasan baru lagi, kan?Selalu aja gitu. Minggu besok mau ke sini. Minggu depannya mau ke situ. Ke sana. Kemari. Selalu aja ada acara. Dan semuanya penting. Nggak ada yang nggak penting!” Ify langsung berseru jengkel begitu tahu maksud kedatangan Rio.
Rio berdiri, mendekati ceweknya yang sedang cemberut berat itu lalu memeluknya dari belakang dengan mesra. Disandarkannya dagunya di bahu Ify, kemudian diberikannya Ify satuciuman di pipi, begitu lembut dan penuh cinta. Harus begitu memang kalau tujuannya ingin tetap bisa tercapai seperti kemarin-kemarin. Meninggalkan Ify di rumah… lagi!
“Kalo dipikir-pikir… aku egois banget, ya?” bisiknya. Menuduh dirisendiri dulu biar kesannya sadar kalau bersalah.
Basi! Dengus Ify dalam hati.
“Tapi kamu tau nggak, kenapa aku nggak pernah ngajak kamu? karena gunung bukan tempat yang aman buat cewek. Banyak bahayanya. Binatang buas,misalnya.”
“Kamu kok nggak kenapa-kenapa?”
“Aku cowok, Fy”
Nah, ini! Ucap Ify dalam hati. Terus kenapa kalo cowok? Emangnya macan nggak doyan cowok, apa? Nggak masuk akal banget alasannya!
“Belum lagi dinginnya yang gila-gilaan. Lagian ini bukan kegiatan untuk pemula. Bukan sekedar hiking. Ini latihan fisik. Jadi sifatnya jugaintern.”
Pelukan Rio makin menguat. Dibenamkannya tubuh Ify dalam pelukannya. Satu ciuman lembut dia berikan untuk bibir cemberut Ify. Tapi cewek itu sudah tidak terpengaruh. Sudah bosan! San! San! San…! Lagu lama!
Medannya beratlah, bukan buat pemulalah, internlah, bahayalah, dan masih buanyak lagi alasan lainnya. Tapi intinya Cuma satu. Riotidak ingin dia ikut! Itu saja. Tapi ngomongnya repot.
Melihat Ify diam, Rio mengira lampu hijau telah menyala. Meskipun nggak hijau-hijau amat. Menurut Rio, tempat terbaik cewek memang di rumah. Di dekat ayah-ibu, juga saudara-saudara!
Harap dicatat!
***


Di rumah Agni, Cakka juga sedang menjelaskan bahwa hari Sabtu danMinggu besok dia “terpaksa” absen lagi. Tapi cowok itu tahu, penjelasannya itu sebenarnya percuma, karena Agni justru akan sangat bersyukur kalau dirinya tidak muncul. Telat datang menjemput saja, cewek itu sudah langsung lenyap.Telepon ke rumahya sering dibilang tidak ada, sementara langsung ke ponsel Agni lebih sering jadi usaha sia-sia. Dibanding cewek-cewek Cakka terdahulu, baru ini yang benar-benar bertingkah. Membuat Cakka jadi sering senewen.
“Kok dateng? Ini kan malem Selasa? Nggak punya kalender ya?”
Cakka menatap wajah sang nona rumah yang sama sekali tidak welcome itu.
“Ada yang mau aku omongin, Ag. Coba tolong duduk,” ucapnya lembut. Agni duduk ogah-ogahan. Cakka berdehem. Menyetel tampang sedih dulu, biar lebih meyakinkan.
“Malem Minggu besok kayaknya aku nggak bisa dateng lagi, Ag.Soalnya…”
“Aaaah, nggak apa-apa”
Belum juga Cakka selesai bicara, sudah dipotong. Tapi disabarkannya hati dan diteruskannya kalimat yang terpenggal.
“Maranon ada acara…”
“Iya. Nggak apa-apa…”
Dipotong lagi! Cowok itu mendesis jengkel. Dua mata elangnya mulai menajam. Tapi Agni menentang tatapan itu dengan berani. Iyalah, di rumah. Coba di luar? Tidak bakalan cewek itu punya nyali!
“Bisa aku ngomong sampe selesai?”
“Nggak usah. Aku udah tau. Maranon ada acara kan sampe malem Minggu besok? Makanya elo,eh, kamu nggak bisa dateng. Mau acaranya apa kek, pokoknya ada acara aja!”
“Nggak pengen tau acaranya?”
“Nggak!”
“Tapi aku pengen ngasih tau!” tandas Cakka.
“Tapi aku nggak kepengen tau, tauuu!” Tolak Agni. Tandas juga.
Sepasang mata Cakka berkilat. Tapi dia tidak menyerah. Cewek dihadapannya ini harus tahu dengan siapa dia pacaran. Cowok yang digilai banyak cewek! Kurang ajar benar kalau matanya terbuka satu pun tidak!
“Jangan kamu kira kalo pergi-pergi begitu aku enjoy, Ag,” katanya bohong. “Nggak sama sekali. Soalnya, selalu aja ada cewek yang harus aku jaga.Oik, Keke, Acha, Oliv. Banyak. Apalagi Stella. Dia juga nggak pernah absen. Selalu ikut setiap kegiatan Maranon dan selalu aja sakit.”
“Kenapa?” tanya Agni tanpa minat.
“Macem-macem keluhannya. Pusing, perut mual, dada sakit. Malah tuh cewek sering pingsan.”
“Ya nggak apa-apa. Namanya juga temen lagi sakit. Masa mau dicuekin?”
“Bikin repot, Ag. Karena harus selalu dijaga.”
“Ya nggak apa-apa. Nolongin orang itu banyak pahalanya. Ntar kalo mati, kamu bisa langsung masuk surga.”
Agni tetap tidak terbakar cemburu sedikitpun.
“Tapi aku jadi ingat cewek yang kutinggal di rumah.”
“Aku rasa mama kamu pasti setuju. Kakak kamu juga. Adik kamu juga pasti.”
“Aku lagi nggak ngomongin cewek di rumahku! Nggak usah pura-purabego, Ag!” akhirnya Cakka nggak bisa menahan geram.
“Oh… jadi maksud kamu tuh aku?” Agni menunjuk dadanya. “Aaah kalo aku sih kayak gitu-gitu no problem. Aku orangnya santai kok. Fleksibel, pengertian.Semua tindakan kamu nolong-nolong tadi, aku dukung seratus persen!”
Cakka menarik napas panjang. Lagi-lagi berusaha menyabarkan hati.Tapi wajah menjengkelkan di depannya membuat cowok itu akhirnya mengarang satu cerita yang benar-benar panas.
“Kalo masih wajar-wajar kayak gitu sih emang nggak masalah. Tapi kalo udah sampe nggak wajar…?” diangkatnya alisnya tinggi-tinggi. “Bukan Cuma cewek yang mesti jaga diri. Cowok juga!”
“Maksudnya?” Agni tidak mengerti.
“Maksudnya…” Cakka memajukan badannya. Ditatapnya Agni lurus-lurus. “Sampe ada yang nekat bugil di depanku!”
“HAAAA!?” Cakka berhasil kali ini. Cewek di depannya kontan kagetbanget. Gila asli! “Siapa!? Siapa!?” Seru Agni seketika.
“Nggak penting itu siapa.”
Cakka tidak bohong. Memang pernah ada cewek yang melakukan aksi bugil di depannya. Mantan istri Bruce Willis, Demi Moore. Dan si pirang seksi yang memang tidak tahu malu. Madonna.
Tapi cowok itu jelas tidak bersedia memberitahu. Dibiarkannya Agni tercengang dengan dugaannya sendiri. Dan orang yang ketiban sial disangka bugil adalah Stella. Soalnya cewek satu ini memang sudah kondang. Centil, suka overacting, dan kalau pakai baju selalu ngablak. Perutnya adalah pemandangan yang sudah biasa di kampus. Belahan dadanya apalagi.
“Stella pasti!” desis Agni. “Iya, kan?”
Stella? Cakka hampir tertawa. Cewek yang badannya setipis tripleks begitu? Siapa yang tertarik melihat, walaupun dipampang di depan mata? Soalnya sudah bisa dipastikan, tidak ada pemandangan yang bisa menyehatkan saraf mata.
“Tapi nggak mungkin. Bohong kamu! Ngarang! Aku tau tuh cewek emang gila. Tapi nggak mungkinlah otaknya sampe korslet banget gitu!”
“Kenapa aku mesti bohong?” Tanya Cakka kalem. “Kenapa mesti ngarang cerita? Tanya aja sama orangnya kalo nggak percaya!”
Maksud Cakka, tanya sama Demi Moore atau Madonna. Tapi karena dari awal sudah miskomunikasi alias mis-objek pembicaraan, kalimat itu membuat Agni yakin Stella-lah yang telah melakukan aksi bugil di depan Cakka. Dan makin shock-lah dia tanpa bisa menyembunyikan ekspresinya. Dengan puas Cakka menikmati keterperangahan itu.
“Sampe begitu, Ag! Tapi aku tetep inget cewek yang kutinggal dirumah. Yang sekarang ini duduk di depanku. Yang selalu aku bawain edelweis tapi nggak pernah bilang terima kasih. Yang kalo aku telepon sering dibilang nggak ada. Yang kalo aku dateng jarang disambut dengan manis. Tapi tetep…,” sepasang mata Cakka berubah lembut, “Aku nggak akan bikin dia menangis!”
***


Agni langsung lari ke meja telepon begitu Cakka pulang, karena ada hal mahagawat yang harus disampaikannya pada Ify dengan segera. Tapi ternyata sahabatnya itu telah berpesan kepada seisi rumahnya bahwa dia benar-benar tidak ingin diganggu. Sementara ketika dicobanya menghubungi Ify via ponsel, tidak aktif. Terpaksa Agni hanya bisa menunggu, dan langsung terbirit-birit begitu telepon berdering.
“Ya ampun, Fy! Elo ngapain aja sih?”
“Gue marah banget, Ag!”
“Mereka kan dari dulu emang gitu. Nggak bisa libur lamaan dikit.”
“Tapi nggak bisa gitu terus dong! Emangnya mereka nganggap kita tuh apaan? Nggak ada jalan lain. Kita harus balas dendam! Tadi waktu semedi gue udah nemu caranya. Tapi kita ngomonginnya di tempat Sivia aja.”
“Di rumah Sivia? Ngapain disana? Elo kan tau dia orangnya ngeselin.”
“Justru itu! Mau nggak mau kita harus ngajak dia. Bahaya kalo nggak.”
“Emang elo mau ngomongin apa sih?”
“Ya masalah ini. Kita harus balas dendam. Harus bikin perhitungan!Santai aja mereka, pergi-pergi melulu, tapi nggak pernah ngajak kita satu kalipun!”
“Sivia mana mau, lagi?”
“Kita hasut sampai mau!”
Agni diam, berpikir. Tiba-tiba dia ingat tujuannya menelepon Ify.“Oh iya! Bilangin Sivia juga kalo setiap mereka pergi, Stella pasti ikut! PastiSivia langsung panas. Nggak perlu dihasut lagi.”
“Stella? Masa? Orang badannya kayak keripik gitu? Mana kuat naikgunung?”
“Tapi katanya Cakka gitu, Fy. Kalo anak-anak Maranon bikin acara, si Stella pasti ikut.”
“Hah?!” sepasang mata Ify kontan melotot bulat-bulat. “Masa sih,Ag?”
“Iya! Gue juga taunya barusan, waktu Cakka kesini. Sekarang yang jadi masalah bukan kerempengnya. Nekatnya itu lho. Elo tau sendiri kan Stella nekatnya gimana kalo udah seneng sama cowok. Kejar pantang malu! Mau tuh cowok udah punya cewek kek, bodo amat dia!”
“Pantesan aja mereka mati-matian nggak mau ngajak kita. Kasih alasan ini-itu. Bukan buat pemula-lah, internlah. Emangnya si Stella itu udah pakar, apa? Lagian dia juga bukan anggota Maranon.Orang Maranon nggak punya anggota cewek.Dasar! Kurang ajar! Jadi gitu ceritanya?!” desis Ify berang.
“Dan ada berita yang lebih menggemparkan lagi, Fy!”
“Apa tuh!? Apa!? Apa!?”
“Aksinya Stella udah makin nekat. Sekarang dia udah sampe pake atraksi… Siap-siap, Fy…! BUGIL!!!”
“HAAA!?” Ify menjerit gila-gilaan. Lalu… bruk! Cewek itu terjatuh gara-gara tulang keringnya terantuk telak-telak saat akan memutari meja telepon. “ADOOOH!” kontan dia menjerit kencang lagi. Lalu hening.
“Ify? Fy? Elo kenapa? Heh? Lo mati ya? Ify? Halo? Halo?” Panggil Agni. Sambil tengkurap, Ify meraih gagang telepon yang tergantung-gantung.
“Sori aja ya kalo gue mati gara-gara Stella!”
“Nah tadi lo kenapa?”
“Tulang kering gue kena meja, gara-gara kaget. Eh, Stella bugil dimana? Di toilet, kan?”
“Kalo di toilet, gimana Cakka bisa tau?”
“Haaah!?” Ify berdecak. “Ini bener-bener gaswat! Bener-bener bahaya besar! Nggak tau malu banget tuh cewek! Dasar nggak bermoral!”
“Makanya! Ntar kasih tau tuh si Sivia!”
***


Ini part satunya.. oh iyaa aku ngepost ini gak ijin dulu -_- abissusah deh kayaknya (?)
INI KARYA ESTI KINASIH yaa :) JADI AKU GAK NGAKU NGAKU INI KARYA AKU

Love of Enemy PART 4

Love of Enemy PART 4

25 Desember 2012 pukul 11:44
“ke kantin ajah deh” ucap Ify lalu berjalan menuju kantin.
“AGAAAAA” teriak Ify lalu memeluk Cakka.
“Rio, Alvin dan Gabriel langsung cengo begitu melihat Ify memeluk Cakka.
Ify pun sadar dan langsung melepaskan pelukannya.
“knapeh lo Fy?” Tanya Cakka.
“gw pikir lo lagi ulangan, gw tadi udah sumpek banget di kelas” terang Ify.
Rio sedikit ilfeel pada Cakka karna dekat dengan Ify. Oh God! Perasaan apalagi ini? Rio hanya menggelang geleng kepalanya tanpa sadar.
“kenapah lo Yo?” Tanya Iel
“hah? Eu euu.. gak papa Yel” jawab Rio gugup.
Ify pun duduk di sebelah Iel, di depan Cakka. Cakka menopang dagunya menghadap Ify seperti sedang memperhatikan IFy. Ify yang merasa risih akhirnya bertanya.
“apaan sihh Ga? Ngeliat gw gitu banget”
“nggak papa Fy, lo kok belom punya cowok sih? Padahal kan lo cantik” ucap Cakka.
“kenapah emangnya? Gw blom mau ajah pacaran” jawab Ify.
“gak laku kali” ucap Rio ngasal
“KARYOO” ucap Ify geram.
“haa? Karyo? Hahahha” Cakka tertawa medengar Ify menyebut Rio Karyo.
“apaan lo bilang gw karyo? Nama gw keren cuy” ucap Rio santai masih memegang iPad nya.
“karyo tuh KAK RIO, kalo baca cepet kan jadi KARYO” ucap Ify memperjelas (?).
“Ga, nanti anterin gw ke Toko buku dulu yaah” ucap Ify.
“iyee.. asal nanti gw di traktir yee” ucap Cakka.
“iya iya gw traktir dehh” “makasih Ify” ucap Cakka lalu tersenyum manis.
Rio semakin sesak begitu melihat keakraban Ify dan Cakka, rasanya hatinya tak rela jika Ify berdekatan dengan cowok lain.
Rio mencoba memutar otaknya untuk ke sekian kalinya. Memastikan bahwa dirinya sedang tak bermimpi, merasa jealous pada musuh sejak smp nya ini.
Rio mengamati wajah Ify yang sedang tertawa lepas dengan Cakka. Cakka? Yaa Cakka, sahabatnya yang membuat Rio merasa Jealous alias cemburu.
Dari SMP memang Rio sudah sangat sering melihat Ify dan Cakka berdekatan, bahkan mereka selalu pulang bareng. Tapi baru kali ini Rio merasakan perasaan ini, perasaan apa ini? Apakah perasaan ini harus muncul disaat seperti ini? Kenapah Rio harus merasa cemburu pada musuhnya sendiri?

“heii lo kenapah Yo?” Tanya Cakka.
“hah? Eu e.. nggak papa Cak”

Rio melihat sekeliling kantin, ia tak melihat lagi Ify. Mungkin Ify sudah kembali ke kelasnya.

PART 4
CRAG pun kembali ke kelasnya.
“Rio sama Gabriel dipanggil sama Bu Ira, ditunggu di ruangannya.” Ucap sang ketua kelas, Sion.
Rio dan Gabriel pun pergi ke ruangan Kepala Sekolah, memang Bu Ira adalah Kepala sekolah Inschool.
Ternyata di ruang kepsek telah ada Ify dan Sivia.
“naah itu dia Mario dan Gabriel, silakan duduk” bu Ira mempersilakan.
Mereka pun duduk.
“jadi begini Yel, Rio” bu Ira memulai bicara.
“minggu depan kan ada Porseni, ibu harap kalian bisa mengaturnya. Tahun lalu porseni sekolah ini kurang kreatif, jadi ibu titip sama kalian untuk mengaturnya sebaik mungkin, kalian bisa kan?” jelas dan Tanya Bu Ira.
“iyah bu, kami bisa” ucap Iel mantap.
“dan Ini ada Alyssa dan Sivia yang akan membantu kalian, jenis Porseninya terserah kalian sajah” ucap Bu Ira lagi
“kok sama mereka sih bu?” Tanya Iel.
“Ify kan ketua ekskul Musik putri dan Rio ketua Ekskul Putra, sedangkan Sivia anak yang berbakat untuk mengatur porseni ini.jadi bekerjanya Rio dengan Ify, dan Gabriel dengan Sivia” Jelas Bu Ira.
“kalian bisa keluar sekarang, terima kasih untuk kedatangan kalian” ucap Bu Ira mengakhiri.
**

“kok gw sama Karyo sih?” Tanya Ify setelah keluar dari ruang Kepsek.
“gw juga ogah kalo sama lo” ucap Rio ketus
‘lho kok gw bisa ketus sama Ify? Kenapah perasaan itu gak muncul lagi?’ batin Rio
“pokoknya gw ga mau kalo sama Ielalang! Gw gak mau bla bla bla….” Sivia ngomel ngomel sendiri.
“lo pikir gw mau kalo sama lo?” Tanya balik Iel.
ISTIRAHAT!!!!!!!!!! (?).
“di kantin berasa adem yee” ucap Shilla sambil menjilat ice cream nya.
“kan gak ada si genk gila” ucap Agni ngasal.
“si Cakka maksud lo Ag?” Tanya Ify terkekeh.
“iyaa, lo punya sahabat gitu banget Fy” ucap Agni lagi
“ohh iyaa Ag, nanti kan ada Porseni, gw ditugasin nihh buat ngatur ngatur nya. Gimana kalo diadain lomba Basket? Lo bisa rundingin sama Cakka” ucap Ify yang langsung membuat Agni geram.

“hehehhe peace Ag” ucap Ify.
SKIP>>>
Pulang sekolah tiba, Cakka sudah menunggu Ify di depan pintu.
“heh? Lo ngapain Cakdut disini?” Tanya Agni sambil siap untuk memukul wajah Cakka dengan tasnya.
“gw nyerah Ni, gw kalah deh kalo sama lo” Cakka memohon mohon
“awas ajah lo, kmaren gw menang ngelawan lo” ucap Agni.
“gw kan udah minta maaf Ni” ucap Cakka.
“nini nini apaan lu Cak? Nama gw Agni” ucap Agni kesal
“Aga ayo kita pergi, keburu ujan nih” ucap Ify yang baru keluar kelas.

@TOKO BUKU
Rio melihat CakFy di balik deretan buku buku tinggi, mungkin aksi Rio ini lebih pantas disebut ngintip hihihi :D
“Ga, kayaknya udah deh segini, kita pulang yuk” ucap Ify sambil menyodorkan beberapa Novel yang akan dibelinya.
“yaudah, lo tunggu disini, gw ke kasir dulu” ucap Cakka lalu pergi ke arah kasir.
Ify pun duduk tepat di deretan buku buku tinggi tempat Rio berdiri. Rio kaget lalu buku yang ada dihadapannya jatuh tepat di kepala Ify.
“aduuuhh..” Ify memegang kepalanya.
“eh eh sorry” ucap Rio spontan
“elo?” “ngapain lo disini?” Tanya ify dengan nada tak suka.
”gak suka”? Tanya Rio.
“iyyah,gw gak suka!” jawab Ify jelas.
“emangnya ni toko punya nenek moyang lo?” Tanya Rio
Tiba2 Cakka datang dengan menenteng tas yang berisi nove novel Ify.
“eh ada elo Yo, ngapain lo disini? Lo kan anti banget ke toko buku” ucap Cakka.
“gw lagi nganteri Dea beli buku Cak” ucap Rio tanpa gugup.
‘gw ngomong apa sih’ rutuk Rio dalam hati.
“yaudah selamat mengantar, ayo Ga kita pulang” ucap Ify sambil menarik tangan Cakka.
“gw duluan ya Yo, Good Luck buat cewek baru lo” ucap Cakka yang langsung ngibrit pergi
“aarrrrggh sialaan!” ucap Rio.

KEESOKAN HARINYA@Jkt Inschool
Di koridor sekolah, jam 9 pagi sekolah sudah sedikit sepi, karna sebagian siswa sudah pulang dikarenakan ada Rapat guru.
Ify berjalan menyusuri koridor, dia akan ke kelas Cakka karna dia lihat motor Cakka masih ada di parkiran.
Hampir sampai, satu ruangan lagi yang dilewati, itulah kelas Cakka.
Tiba tiba ada orang yang mukanya cemong, memakai payung, baju robek robek, dan menenteng tas yang sangat kucel.
Dia mendekati Ify sambil senyum seyum.
“anakku” ucap orang itu, dia akan memeluk Ify tapi Ify lari.
“toloooooonggg” ucap Ify.
Ify sangat ketakutan, Ify sperti tidak berdaya. Dia duduk di sisi koridor dengan tangan menutupi mukanya dan menenggelamkan mukanya di atas lututnya.
Ify menagis sejadi jadinya, dia takut, sangat takut. Takut kejadian itu terulang dan akhirnyaa…..
Tangisan Ify semakin keras, siswa siswa dan CRAG pun datang lalu Cakka mengusir orang gila itu!! yaa orang gila yang membuat Ify histeris ketakutan, sangat ketakutan bahkan.
Rio mendekati Ify, dan Refleks Ify memeluk Rio sangat erat. Dia masih menangis di pelukan Rio.
Rio yang kaget, lama lama membalas pelukan Ify dan mencoba menenangkan Ify.
Ify masih tak mau melepaskan pelukan itu, dia merasa nyaman dengan keadaan itu.
“ekhheeemm” ucap Iel yang sudah bosan dikacangin.
Ify pun melepaskan pelukan itu, dia berdiri dengan bantuan tangan Cakka.
Rio pun ikut berdiri.
Ify menggenggam tangan Cakka dengan erat.
“gw takut Ga” ucap Ify lirih.
“orang gilanya udah pergi kok Fy, lo tenang ajah” ucap Cakka sambil tersenyum.
Ify pun menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan
“gw pengen pulang” ucap Ify masih dengan suara yang lemah.
“iyah yaudah yuk, ni smua juga mau maen ke rumah gw” ucap Cakka.
Orang orang yang mengerumuni Ify tadi pun bubar dengan kekecewaan. Salah satu pangeran sekolahnya memeluk Ify sangat lama-_-

@Rumah Cakka
“Cak, si Ify kok sampe nangis gituh ngeliat orang gila” Tanya Rio
“dia trauma” “trauma kenapah? Cerita donk lo” ucap Iel juga
“dulu kita tuh sahabatan bertiga, gw, Ify, sama Rizky. Tapi sekarang Rizky udah gak ada…” Cakka menarik nafasnya berat seolah yang akan diceritakan itu juga begitu berat.
“7 tahun yang lalu, Rizky meninggal karna nolongin Ify.” Dapat Rio lihat, wajah Cakka sangat sedih, bahkan Rio baru sekarang melihat Cakka sesedih ini.
“ Ify dikejar orang gila, dan dia sempat digendong oleh orang gila itu. Rizky yang menolong malah kena tusuk pisau yang dipegang oleh orang gila itu” lanjut Cakka
“gw baru liat si Ify nangis” ucap Alvin
“sama” ucap Iel dan Rio
Dibalik kejutekannya, ternyata Ify memiliki sesuatu yang ditakuti, dia seperti ceria setiap saat, tapi ternyata dia juga sedih. Dia kuat, tapi ternyata dia juga rapuh. Dia memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh orang lain, tapi ada kalanya manusia itu juga pasti memiliki kekurangan
**

Di sekolah pun Ify seperti sedikit muram, matanya sembab.
Kenapa harus muncul lagi peristiwa itu? Kenapa semua selalu terjadi seolah olah kejadian itu selalu mengahantui Ify? Ify menatap keluar jendela, di luar hujan. Yaa hujan mungkin merasakan apa yang Ify rasakan. Ify tersenyum pahit saat mengingat kejadian kemarin. Dia menutup matanya. Dia masih bisa merasakan belaian kasih yang selalu Rizky berikan dulu, belaian itu tak pernah hilang dari benaknya. Dia masih mengingat semua kejadian saat Ify, Cakka, dan Rizky bersenang senang tanpa beban, semua itu masih terekam dalam memori kecil di otaknya. Dan tak lupa Ify juga masih mengingat saat semua telah hancur, Rizky ditusuk dengan pisau oleh orang gila itu dan akhirnya…
Butiran bening di mata Ify tak dapat Ify tahan lagi. sekarang rasa bersalah dan penyesalan itu muncul lagi.
“hiks hiks” tangis Ify sambil menutup matanya.
“Fy..” ucap Via pelan.
Ify bergeming, dia tetap menutup matanya.
Akhirnya Via pun mengerti, mungkin Ify butuh sendiri.
“Fy, ayo pulang” ucap seseorang yang mampu membuat Ify membuka matanya.
“Ga, gw…” suara Ify teputus lalu dia menangis lagi.
Cakka merengkuh tubuh Ify.
Dapat Cakka rasakan betapa rapuh tubuh Ify, dan dia juga merasakan betapa sedihnya Ify, meskipun mungkin Cakka merasakannya tak sedalam yang Ify alami.
Semua siswa terdiam, terlebih saat cewek2 menyaksikan Cakka yang selalu narsis, kocak, gokil, tapi kini? Cakka ?jangan ditanya lagi!
Cakka pun mengusap air mata Ify dengan pelan.
“kita pulang ya” ucap Cakka lalu merangkul Ify agar tidak jatuh. Jatuh? Yaa Ify memang memiliki fisik agak lemah, dia bisa pingsan kalau sudah mengigat kejadian ini.
**
Di Rumah Ify sudah ada orang tua Ify yang sepertinya baru pulang kerja.
Tante Maura, Ibu Ify kaget saat melihat Ify digendong oleh Cakka. Yaa di mobil tadi Ify pingsan mungkin karna sangat capek mengingat semua.
“Ify kenapah Kka?” Tanya tante Maura pada Cakka.
“biasa tante” ucap Cakka yang langsung mendapat anggukan dari papah sekaligus mamah Ify.
Setelah meletakkan (?) Ify di tempat tidurnya, Cakka pun pamit untuk pulang.
30 menit, Ify pun bangun lalu mengarah ke ruang tv (?)
“Mamah papah” seru Ify lalu memeluk mamahnya.
“gak mau meluk papah nih?” Tanya papahnya pura2 sirik -_-
“papaaaahh” Ify pun memeluk Papahnya.
“Ify kangen banget sama kalian” ucap Ify sambil cemberut, papahnya lalu mencubit pipinya, sdangkan mamahnya mencubit pelan hidungnya.
“kita sekarang cuti 1 minggu kok Fy” ucap tante Maura.
“hah? Yang bener? Yaampun seneng banget donk Ify mah” ucap Ify sangat senang.
Walaupun Cuma 1 minggu tapi bagi Ify itu waktu yang susah untuk di dapat bila bersama kedua orang tuanya (?).
^^
Keesokan harinya Ify seperti biasa, becanda lagi :D
Aneh bukan? Dia bisa melupakan kesedihannya bila orang tuanya ada bersamanya.
“lo aneh banget Fy” ucap Rio.
“kenapah? Lo gak mau liat gw seneng? Mentang mentang gw musuh lo?” Tanya Ify
Musuh? Dada Rio sesak setelah Ify mengucapkan kalimat itu, sangat sakit bahkan.
“by the way, makasih yaa buat pelukan lo yang bikin gw nyaman hehehe”ucap Ify cengengesan.

“Ciieee yang nyaman dipeluk iyo(?)” ucap Cakka.

Sore hari telah tiba J J
Setelah mandi dan mengganti bajunya, Ify merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk dengan nuansa kamar Biru langit.
Suara handphone Ify bunyi tanda masuk sms.
Ify pun membuka sms itu, ternyata….
From : 085222xxxxxx
Gw tunggu lo di Taman Ganesha skarang!
PENTING

“dari siaph nih? Nomornya gak kenal” ucap Ify, dia penasaran, dia pun membalas sms itu
To :085222xxxxxx
Ini syapah ya?


Tetapi hasilnya nihil! Sudah 10 menit Ify menunggu, tapi balasan dari nomor itu tak kunjung datang. Ify pun berniat untuk mendatangi tempat itu.
Setelah membawa dompet serta memakai jam tangannya Ify memakai sepatunya.
“adduuhh, di depan kan ada Pa Adi, sialan” ucap Ify. Dia pun jalan keluar melewati jendela.
Note : Pak Adi adalah orang yang menjaga Ify kemana pun Ify pergi, karna Orang tua Ify sering berada di luar negri, makanya Ify selalu diawasi oleh Pak Adi. Dan kebetulan kedua orang tua Ify sedang ada tamu.
Ify pun pergi dengan menggunakan Taksi untuk menuju Taman Ganesha.
Sesampainya Ify langsung mengedarkan pandangannya untuk mengetahui siapah yang menyuruhnya kesini.
“Mana yaah orang itu?” gumam Ify sambil lirik sana lirik sini.
“ekheeeemmm” Ucap seorang cowok yang ada di belakang Ify. Ify pun menoleh ke belakang, disana cowok itu sedang membelakangi dirinya sambil duduk di kursi taman.
Ify pun berjalan menuju cowok itu, dan Ify sangat kaget begitu melihat orang yang berhasil membuatnya penasaran tingkat akut.
“KARYOOOOOOOOOOO” ucap Ify sangat geram.
“kenapah? Kaget sama kegantengan gw yaah?” Tanya Rio watados.
“iihh, ngapain lo ngajak gw kesini?” “ngajak?sorry yee gw gak ngajak lo, gw cuman nyuruh lo ajah” ucap Rio.
“sama ajah dodol!”
“mana laptop lo?” Tanya Rio yang membuat Ify bingung.
“buat apaan? Gw gak bawalah”
“yaelah lo gimana sihh? Yaa buat bikin proposal buat Porseni lah” jelas Rio
“ lo nya ajah ngesms gw misterius gituh, mana inget gw sama laptop gw” ucap Ify.
“udahlah besok ajah ngerjainnya gw mau pulang, laper tau!” ucap Ify sambil memegang perutnya.
“Lo tuhh yah, kalo pengen makan bareng gw ngomong ajah, , gak usah cari alesan” ucap Rio pedenya -_-
“hah?nyari alesan? Gw emang laper KARYOOO” ucap Ify kesal.
“udah sekarang kita makan dulu deh, yuk” ajak Rio.
“kita?” Tanya Ify kaget
“iya Lo sama Gw, bego” ucap Rio lalu menggenggam tangan Ify dan mengarah ke Restoran terdeket^^
“mau pesen apa?” Tanya Rio sambil memegang menu makanan.
“apah ajah deh yang penting gw ditraktir” ucap Ify cengengesan.
Deegghh..
Rio terpaku saat melihat Ify becanda. Rasanya, ini yang ia inginkan dari gadis ini. Menginginkan gadis ini tidak benci padanya.
“mbak, menu special hari ini ajah yaa dua, minumnya apple juice (?).” ucap Rio pada pelayannya.

Makanan datang, mereka pun melahap makanan masing masing. Setelah habis suasana masih hening. Tak ada yang bersuara diantara mereka berdua.
Hingga handphone Ify yang memecahkan keheningan itu.
Pak Adi Calling…
Tulisan yang tertera di hp Ify.
Ify berdecak kesal. “siapah? Angkat donk, siapah tau ajah penting” ucap Rio.
Ify pun mengangkatnya.
“halo”
“???”
“iyaah bentar lagi Ify pulang Pak”
“????”
“gak usah, Ify lagi sama Aga kok”
“???”
“main Pak, bentar lagi Ify pulang kok, iyaah iya Bawel deh” ucap Ify lalu telepon pun terputus.

“papah lo yaa?” Tanya Rio menebak nebak.
“bukan kok, oh yaa gw pulang dulu yaah.. makasih buat traktirnya hehe” ucap Ify lalu bernjak dari kursinya.
“ehh bentar, biar gw anterin yaah?” Tanya Rio.
“boleh deh, tapi yang cepet yah”

Di Dalam mobil Rio^^
“lo kok tadi boong?” Tanya Rio sambil nyetir.
“boong apah?” “lo bilang sama Cakka, padahalkan sama gw”
“sorry yaah hehe” Ify hanya nyengir
BESAMBUNG…..

Tambah gak tau alurnya ini, saya sebagai penulis juga bingung -_- tambah jelek, gak nyambung lagi u,u
Yaudah lah, LnC sangat dibutuhkan
Ohh yaa selama liburan, aku gak ngepost dulu cerbung hihi, nulis juga perlu libur :D
Follow me
@SilviaNRG

Love of Enemy PART 3

Love of Enemy PART 3

25 Desember 2012 pukul 11:36
Sekali lagi, yang kena tag saya minta maaf yaa.. kalo nggak suka, hapus ajah J
Langsung ajah yaah





“ekhem”. Yaap suara itu sudah tidak asing di telinga Ify. Dia adalah Debo, Debo Andrios Aryanto. Ketua karate putra yang tak kalah popular dengan CRAG. Debo datang bersama Obiet yang naksir Via, dan Dayat yang kebetulan naksir Agni.
“kak Debo, kak Dayat” ucap Shilla.
“gw cuman pengen ngobrol ajah sama kalian” ucap Debo seraya duduk di sebelah Ify.
“Mmm.. Fy nanti lo ada acara gak?” Tanya Debo dengan nada kalemnya.
“emangnya mau ngapain?” Tanya Ify dingin.
“weessss galaknya” ucap Obiet.
“sssttt” Debo mengisnyaratkan bahwa mereka semua pergi.
“eehh lo lo pada mau kemana?” Tanya Ify.
Tapi mereka tidak menjawab. Di kejauhan terdengar suara anak anak yang memanggil manggil nama Debo, dan Ify dapat menyimpulkan bahwa itu adalah fans Debo.
“tuhh, lo liat sendiri.. banyak yang ngejar2 gw” ucap Debo sombong.
“trus ngaruh buat gw ?” Tanya Ify judes (?).
“bukannya gitu Fy, lo harusnya bangga karna gw ngajak jalan lo” ucap Debo yang suaranya sengaja dikeraskan.
“hah? Jalan?” terdengarlah suara seisi kantin, pokoknya heboh banget dehh ceritanya (?).
“waah terima tuh” “kalo gw yang diajak pasti gw mau” “wahh beruntung banget tuh si Ify”. Kira2 seperti itulah omongan cewek2 yang ngefans Debo.
Rio yang melihat itu langsung geram, ia tak tau kenapah dia bisa seperti itu, apa dia jealous? Ahh gak mungkin!
Ify berjalan gontai meninggalkan kantin, dan pastinya meninggal Debo juga.
“gw makin penasaran sama lo,Fy” gumam Debo.

@X IPA-1
Begitu Ify datang, seisi kelas langsung menghampiri Ify, mereka nanya macem2, tapi Ify malah pergi gitu ajah*sombong-_-
Ify langsung duduk di bangkunya.
“lo diapain sama ka Debo?” Tanya Sivia langsung.
“gak diapa apain” ucap Ify SPJ.
“waah, kalo gw jadi lo Fy, gw bakalan seneng banget tuh” ucap Shilla berseri seri.
“dasar lo Shill, ka Alvin mau dikemanain?” Tanya Agni.
“yee Ag, gw kan gak ada hubungan apa apa sama ka Alvin, lagian dianya juga deket banget sama kak Jepana.” Ucap Shilla cemberut/
“Zevana Shill bukan Jepana” ucap Ify membenarkan.
“tadi kenapah kalian ninggalin gw?” Tanya Ify jutek.
“Mmm.. tadi kita kan disuruh sama kak Debo, sebenernya gw juga gak mau ninggalin lo, tapi gw yakin kok ka Debo kan baik, cakep, kece, bijaksana dan tidak lupa ganteng” ucap Shilla tanpa tanda jasa*eh tanda baca
Di sisa2 waktu istirahat, tiba tiba segerombol cewek (?) datang ke meja Ify
“heh lo!” ucap cewek itu sambil menunjuk Ify dan menggebrak meja Ify

PART 3**

Ify menghadapi cewek itu dengan kecuekan yang di Vol kan (?)
“dasar lo gak tau malu yaah” ucap Gita teman cewek itu
“kalian mau ngapain sihh kesini?” Tanya Agni memberanikan diri nanya yang seperti nada menantang, dia tau dia berbicara dengan siapah, Angel ketua Cheerleaders Inshool, dan Angel adalah kakak kelas dia.
“gw mmau ngasih pelajaran sama dia” ucap Angel sambil menunjuk Ify.
“ngasih pelajaran?gak salah? Ify tuh udah pinter” ucap Shilla pede.
“pinter? Pinter apanya? Pinter cari perhatian, atau pinter carmuk gituh heh?” Tanya Angel lagi masih membara (?).
“idiih yang ada tuh kalian yang caper, keliatan tuh, pengen populer tapi malah gini caranya” ucap Ify yang daritadi diam akhirnya berkicau juga (?).
“lo gak bisa sopan banget yaah ke kakak kelas” Gita ikutan emosi.
“gimana mau sopan, kalo kalian dateng juga gak pake sopan santun” ucap Ify dengan nada santainya.
Angel sudah siap mengeluarkan kata2, tapi Bel tanda masuk melengking begitu
keras dan panjang. Mau gak mau Angel dan Gita harus keluar dari kelas itu.
Ozy sang ketua kelas yang melihat ada Angel dan Gita di kelasnya langsung bingung, ‘apakah mereka balik lagi ke kelas X?’ ‘apakah mereka gak naik kelas?’ apakah apakah apakah…. Apakah jawabannya?kita saksikan setelah yang satu ini*pletakk.
“awas yaa lo” ucap Angel sebelum meninggalkan kelas SISA.

“ada apah nih?” Tanya Ozy kepo.
“kepo banget sih lo” ucap SISA serempak.
Ozy langsung cemberut mendengarnya. Dan akhirya mereka semua tertawa :D*ikutanketawa
Pelajaran dimulai, tak ada yang berani ngobrol
Hanya coretan kapur dan bollpoint yang terdengar.
Ify masih memikirkan kejadian yang baru saja menimpanya (?)
Ify tau alasan Angel datang ke kelasnya karna Debo! Yaa Debo, lagi lagi gadis ini harus berurusan dengan kakak kelas lagi karna ulah Debo. Dia sudah bosan dengan semua ini, Debo selalu sajah mengganggu hidupnya. Ify tak tau harus melakukan apalagi untuk mengakhiri aksi Debo yang semakin hari semakin membuat Ify muak.
Belpulang berbunyi*yeeeee
Semua murid pun mengemasi barang2nya, tak terkecuali dengan SISA.


@depan Gerbang
“gw duluan yaa Guys” ucap Shilla begitu melihat mobil jemputannya.
Tak lama Ify dan Agni pun pulang.
Tinggallah Sivia sendiri. Tiba2 sebuah (?) motor berhenti di depan Via.
Si pemilik motor melepaskan helm nya dan ternyata……
“hai Vi” ucap Obiet.
“hai juga” ucap Via singkat.
“pulang bareng gw ajah yuk” tawar Obiet.
“gak ah, bentar lagi mobil jemputan gw dateng kok” tolak Via.
“beneran nihh? Nanti diapa apa in lagi.. udah lo ikut gw ajah yuk cepet naik”suruh Obiet.
Akhirnya Sivia pun menaiki motor Obiet.
Sebelum motor itu melesat, muncullah Gabriel.
“ehh ada Si VIA” ucap Iel yang sengaja menyebut nama Sivia menjadi SI VIA.
“apaan sih lo?” Tanya Sivia kesal.
“ehh ada Obiyet juga, gak keliatan tadi” ucap Iel semakin menjadi jadi.
“ihh apa banget dehh lo IELALANG, yaudah yuk kak kita pulang, tinggalin dia” ucap Sivia
“sanah lo pergi” Iel ngusir -_-
Sivia dan Obiet pun langsung melesat pergi. Ada perasaan menyesal di hati Gabriel karna sudah membiarkan Sivia pergi bersama cowok lain
Iel mencoba menepis jauh jauh perasaan itu, tapi perasaan itu selalu muncul pada saat Sivia sedang bersama cowok lain.

Sementara itu, di rumah Agni, Agni berjalan menuju dapur, sasarannya kali ini adalah kulkas. Biasanya sasarannya adalah Meja makan, tapi berhubung pembantu Agni sedang pulang kampung, jadi Agni harus makan seadanya.
Agni pun membuka kulkasnya.
“hah?gak ada apa apa?” Agni ngomong sendiri (?).
“ehh sayang udah pulang yaah?”Tanya sang mamah tiba2.
“yaa kalo Agni belum pulang, Agni gak bakalan ada disini mah” ucap Dewi kesal.
“hahahha, makan dulu donk sayang”
“Ya ambruuuukkkk Mamahku sayaaaaangg, cantik nan ceria.. Agni buka kulkas karna Agni pengen makan” ucap Agni gemas sekaligus kesal.
“yaudah kalo gitu, mamah mau pergi arisan dulu yaa, bye sayang hati hati dirumah.”
“byee hati hati juga di jalan” sambil cepaka cepiki (?).
Mamah Agni pun pergi dengan menggandeng tasnya.

“di kulkas gak ada apa apa, gw ke tukang nasi goreng ajah deh.”ucap Agni, pergi lalu membawa handphone nya.
Setelah mengunci gerbang, Agni lirik sana lirik sini, gak ada tukang nasi goreng jam segini*nasi gorengadanya jam6 pagi, atau 4 sore-_-
“yaah terpaksa deh gw harus kesana” ucap Agni lalu menuju rumah Cakka.
Rumah Cakka? Salah salah salah maksudnya warung nasi goreng, deket rumah Cakka.
Agni pun berjalan melewati rumah Cakka tentunya.
Tiba tiba “brruugghh” Agni terpeleset tepat di depan rumah Cakka.
Jalanannya banyak air yang mengalir, otomatis Agni terpeleset.
Agni berpikir bahwa ini adalah kerjaan Cakka.
“heh lo tuuhh…” ucap Agni terputus karna dia telah tau bahwa itu bukan Cakka, melainkan mamahnya Cakka -_-. Tante Nina namanya.
“ehh tante” ucap Agni sambil tersenyum paksa.
“Agni? Ya ampuun kamu gak papa kan?” Tanya tante Nina. Dapat kulihat tante Nina sedang menyiram bunga.
“Mmm gak papa kok tante, saya gak papa hehe” ucap Agni lagi lagi terpaksa.
“maaf yaah” ucap Tante Nina merasa bersalah.
“hahahhahahaha” tawa Cakka lepas setelah melihat celana dan baju Agni kotor+basah
“lo mau mandi disini? Mentang mentang nyokap gw lagi nyiram bunga.” Tawa Cakka meledak lagi.
“CAKKA! Kamu jangan gitu, mamah gak enak”
“gak papa kok tante. Saya permisi dulu yaa” ucap Agni lalu pergi begitu sajah.”
‘Cakka sialaaan, liat ajah nanti lo di sekolah’ batin Agni.

KEESOKAN HARINYA
“aduuhhh.. ini udah jam 7, bentar lagi bel” desah Agni di halaman rumahnya. Sebuah mobil berhenti tepat di depan Agni berdiri.
“Agni? Kamu kenapah kok belum berangkat?” Tanya tante Nina/mamah Cakka.
“mobil Agni dipake papah, tante. Trus supir Agni lagi pulang kampung” jawab Agni seadanya (?)
“yaudah kamu ikut kita ajah yuk” tawar tante Nina.
“ehh mamah kok malah ngajak dia sih?” Tanya Cakka keberatan.
“makasih tante, tapi gak usah deh, Cakka kayaknya keberatan ucap Agni so prihatin (?).
“gak kok Ag, dia gak papa, tempat duduknya masih kosong, nanti daripada kamu telat kan? Mending ikut kita” ucap Papah Cakka juga.
Cakka tidak berkutik lagi, karna masalanya sekarang papahnya ikut campur tangan, Cakka gak berani melanggar.
“yaudah deh” ucap Agni pasrah, karna memang sebentar lagi mungkin bel.
CaGni pun duduk berjauhan.
Hingga mobil itu berhenti di sebuah sekolah megah dan bertuliskan ‘Jakarta International School’
Agni pun turun lalu berterima kasih pada pemilik mobil, kecuali pada Cakka.
Anak anak kaget, terbengong bengong melihat dua musuh yang turun dari mobil yang sama. Mereka bahkan mengira bahwa CaGni sudah berdamai. Semua siswa yang ada disitu memasang wajah yang sama yaitu wajah yang menanyakan ‘ada apah ini? (?).
CaGni pun mengerti dengan wajah mereka, dan CaGni pun langsung pergi ke kelas masing masing.

Bel berbunyi tanda masuk, semua siswa mengakhiri aktivitas masing masing lalu beranjak ke kelas masing masing.
Pelajaran pertama dimulai. Pelajaran yang sangat amat dibenci oleh Ify.
Pak Oni mulai menerangkan SEJARAH, Ify sebenarnya selalu bolos di pelajaran ini, tapi kali ini ia tak tau harus kemana jika ia bolos. Biasanya ada Cakka, sahabatnya, tapi Cakka sedang ada ulangan, jadi tak mungkin Cakka bolos.
Ify memainkan iPhone nya lalu dia tengah terjun ke dunia games nya.
“Fy..Fy..” ucap Via pelan sambil mencolek lengan Ify (?).
“Ify..” ucap Via bebisik. Ify memang games lovers (?). kalo udah bermain games rasanya Ify tak bisa berhenti. Terkecuali……. “IFY!!” ucap Pak Oni keras sambil melempar kapur tepat di bangku Ify.
“ehh.. iya pak, kenapah?” Tanya Ify watados.
“ sekarang kamu keluar!” ucap pak Oni keras pangkat 100, alhasil semua isi kelas langsung memandang Ify agar cepat keluar, pasalnya jika orang yang disuruh keluar ternyata tidak keluar, maka Pak Oni yang akan keluar.
“iyya deh Pak Oni yang ganteng” ucap Ify lalu berjalan gontai menuju keluar.
Sivia hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Ify.
“ke kantin ajah deh” ucap Ify lalu berjalan menuju kantin.
“AGAAAAA” teriak Ify lalu memeluk Cakka.
“Rio, Alvin dan Gabriel langsung cengo begitu melihat Ify memeluk Cakka.
Ify pun sadar dan langsung melepaskan pelukannya.
“knapeh lo Fy?” Tanya Cakka.
“gw pikir lo lagi ulangan, gw tadi udah sumpek banget di kelas” terang Ify.
Rio sedikit ilfeel pada Cakka karna dekat dengan Ify. Oh God! Perasaan apalagi ini? Rio hanya menggelang geleng kepalanya tanpa sadar.
“kenapah lo Yo?” Tanya Iel
“hah? Eu euu.. gak papa Yel” jawab Rio gugup.
Ify pun duduk di sebelah Iel, di depan Cakka. Cakka menopang dagunya menghadap Ify seperti sedang memperhatikan IFy. Ify yang merasa risih akhirnya bertanya.
“apaan sihh Ga? Ngeliat gw gitu banget”
“nggak papa Fy, lo kok belom punya cowok sih? Padahal kan lo cantik” ucap Cakka.
“kenapah emangnya? Gw blom mau ajah pacaran” jawab Ify.
“gak laku kali” ucap Rio ngasal
“KARYOO” ucap Ify geram.
“haa? Karyo? Hahahha” Cakka tertawa medengar Ify menyebut Rio Karyo.
“apaan lo bilang gw karyo? Nama gw keren cuy” ucap Rio santai masih memegang iPad nya.
“karyo tuh KAK RIO, kalo baca cepet kan jadi KARYO” ucap Ify memperjelas (?).
“Ga, nanti anterin gw ke Toko buku dulu yaah” ucap Ify pada Cakka.
“iyee.. asal nanti gw di traktir yee” ucap Cakka.
“iya iya gw traktir dehh” “makasih Ify” ucap Cakka lalu tersenyum manis.
Rio semakin sesak begitu melihat keakraban Ify dan Cakka, rasanya hatinya tak rela jika Ify berdekatan dengan cowok lain.
Rio mencoba memutar otaknya untuk ke sekian kalinya. Memastikan bahwa dirinya sedang tak bermimpi, merasa jealous pada musuh sejak smp nya ini.
Rio mengamati wajah Ify yang sedang tertawa lepas dengan Cakka. Cakka? Yaa Cakka, sahabatnya yang membuat Rio merasa Jealous alias cemburu.
Dari SMP memang Rio sudah sangat sering melihat Ify dan Cakka berdekatan, bahkan mereka selalu pulang bareng. Tapi baru kali ini Rio merasakan perasaan ini, perasaan apa ini? Apakah perasaan ini harus muncul disaat seperti ini? Kenapah Rio harus merasa cemburu pada musuhnya sendiri?

“heii lo kenapah Yo?” Tanya Cakka.
“hah? Eu e.. nggak papa Cak”
Rio melihat sekeliling kantin, ia tak melihat lagi Ify. Mungkin Ify sudah kembali ke kelasnya.


BERSAMBUNG………
Hahahha tetep geje -_- maaf deh, penulis amatir
LnC sangat dibutuhkan J
Follow me
@SilviaNRG

Love of Enemy PART 2

Love of Enemy PART 2

21 Desember 2012 pukul 15:28
IFy pun berjaln menuju tiang bendera, ternyata disan juga ada Rio
‘kenapah harus ada dia sih’ rutuk IFy dalam hati
IFy pun segera mendekati tiang bendera itu lalu hormat ditengah panasnya matahari yang menembus punggungnya
“kena juga yaa lo” Rio tersenyum mengejek
“iyaa, lo juga kena! Knapah ngejek gw hah?” IFy mulai emosi dengan Rio
“lo tuhh baru juga bentar, muka lo udah merah ajah. Malu yaah diliatin orang2?”
IFy melirik ke belakang, ternyata benar, di sekelilinnya banyak orang yang menonton mereka. IFy tau, pasti ini semua karna adnya Rio. Rio memang sangat sangat sangat popular di sekolah, dan sudah mempunyai fans khusus
IFy mendelik pada Rio, Rio tiba2 mendekai IFy, lalu dia mengelap (?) keringat di kening IFy. Cewek2 langsung menjerit, ada juga yang menggigit jarinya saking terkejut dan merasa iri pada IFy
“eh..” IFy tersentak dengan perlakuan Rio. “apaan sihh lo Yo?” Tanya IFy berusaha menyembunyikan saltingnya.
“kenapah? Lo salting? Malu yaah? Mati gaya? Kikuk?” tnya Rio beruntun
Semua yang disebutkan oleh Rio memang benar, tapi IFy mencoba menyembunyikannya. Tapi Rio sudah bisa membaca otak IFy
“ge er banget lo! So kecakepan iihh”
“tapi gw cakep kan Fy?” Tanya Rio mendekati muka IFy lagi dan menggoda IFy lagi.
“iiihh cakep kalo diliat dari monas!” ucap IFy jutek
“lo juga cantik Fy, manis lagi, senyuman lo bikin yang liat jadi terpesona….” Ucap Rio terputus. IFy merona, “tapi kalo diliat pake mikroskop diatas monas hahahha” lanjut Rio yang membuat IFy merah padam.
“RIOOOOO” teriak Ify.
“eeh sayang jangan gitu donk.” Ucap Rio manis
Cewek yang ada disana seketika ingin mati sajah menndenger perkataan Rio.

Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang melihat aksi Rio, lalu mengepalkan tangannya. Dia begitu emosi melihatnya.

PART 2

Cowok itu yang ternyata Debo teman sekelas Rio yang naksir Ify dan kebetulan lewat di lapangan. Debo terlihat sngat marah dan rasanya siap untuk meluncurkan tinjunya ke cowok hitam manis itu.
Ify sudah sepertinya ingin menelan Rio hidup hidup setelah mendengar perkataan Rio yang sangat membuatnya sebal.
Bel pergantian pelajaran berbunyi nyaring, terdengar di telinga Ify sangat mengalun indah .
Ify pun berjalan menuju kelasnya untuk segera beristirahat, karna dipanggang selama 1 jam itu membuatnya sangat lelah, ditambah lagi tadi pagi Ify cuman makan roti dan segelas susu.
“dadah beheeeelll” ucap Rio sambil melambaikan tangannya.
“jijik gw, dasar item lo!” ucap Ify lalu masuk ke kelasya.

“huuhh capek!” ucap Ify lalu duduk di bangkunya di sebelah Sivia.
“lo kok bisa telat sihh? Trus gw liat lo dihukum sama kak Rio lagi” ucap Shilla.
“macet di jalan Shill” ucap Ify singkat.
“hah? Sama kak Rio? waah so sweet bgt dehh” ucap Via yang mendapat jitak an gratis dari Agni.
“sakit tau” Via memegang kepalanya.
Belum sempat Ify istirahat, guru sudah datang. Tambahlah Ify semakin lelah -_-
Bel istirahat berbunyi*cepetamat

@kantin
“kalian mau pesen apah?” Tanya Via yang sudah siap untuk memesan.
“gw nasi goreng sama orange juice” jawab Agni.
“samain ajah” ucap Ify dan Shilla.
“yaudahh gw pesen dulu yaah” ucap Via lalu pergi ke tukang dagangnya (?)


“bii…” saat Sivia mau pesen, tiba2 Iel nubruk gitu dehh*ciieee
“aduuhhh.. apaan sih lo nubruk nubruk gw?” Tanya Sivia yang merasa di tubruk oleh seseorang, yang ternyata adalah Iel.
“udaah.. gw duluan yang pesen” ucap Iel seenaknya.
“enak ajah, gw yang duluan kesini!” ucap Via kesal.
“gw yang duluan mesen!” Iel tak mau kalah.
“ladiest first oke” “gak! Gw yang duluan”
Bibi penjual hanya diam melihat Iel dan Sivia berantem, karna memang seperti inilah setiap mau mesen
“heeii ledis perst” ucap bibi penjual tiba tiba yang membuat Siviel saling pandang dan langsung berteriak “LADIEST FIRST BII” Ucap Siviel serempak.
“waah kalian jodoh kali yaa, ngomongnya kompak gitu” ucap bibi penjual watados.
“iiihhh ogah gw kalo jodoh sama dia” ucap Via sambil mendelik
“ apalagi gw, gak mau begete !” ucap Iel tegas lugas dan bijaksana (?)
“gw bilangin sama seluruh siswa, kalo ketos Inschool itu gak mau ngalah sama cewek!” ancam Via.
“iya iya lo duluan dehh, gw kasian sama lo yang kayanya gak makan seminggu.”
Sivia pun tersenyum manis pada Iel dan langsung memesan.
Iel terpaku saat Sivia senyum padanya, rasanya baru kali ini Sivia tersenyum manis pada Iel.
Sivia pun pergi setelah selesai memesan


Di meja kantin tempat SISA, Agni sudah memegang perutnya.
“kenapah lo Ag?” Tanya Sivia setelah tiba di meja.
“mana makanan gw? Lo lama amat sihh, kebiasaan deh” omelan Agni keluar.
“hehehhe sorry yaah, biasa tadi ada Ielalang” Sivia hanya cengengesan.
Ify hanya geleng geleng kpala.

Di kejauhan, tepatnya di meja CRAG, Alvin tengah menikmati pemandangan yang sangat indah. Yaa pemandangan apalagi kalau bukan pemandangan Shilla, Ashilla Zahrantiara tepatnya. Cewek pertama setelah ibunya yang dapat membuat Alvin menyunggingkan senyum. Alvin memang terkenal dengan sifat dinginnya.
“heh Pin, lo kenapah senyum senyum geje gitu?” Tanya Cakka yang penasaran.
“kesambet kali” Rio ikut ikutan.
“atau ada si Sule yaa di depan” Iel menambahkan.
“ngaco lo semua, heh Cicak, nama gw pake VI ‘V’ bukan PE ‘P’” ucap Alvin.
“sama ajh Pin, lagian kan perubahan nama lo gak sampe ngerubah wajah lo” ucap Cakka sambil mengunyah chip nya.
Alvin kembali tersenyum setelah melihat Shilla di kejauhan
Iel mengikuti arah mata Alvin, dia tersenyum jail
“ekhemm.. ehh Cak, lo tau gak rasanya jatuh cinta gimana?” Tanya Iel pada Cakka.
Cakka yang mengerti, langsung menjawab “ rasanya tuhh serasa dunia milik sendiri Yel, temen2 yang laen suka gak dianggap gitu” ucap Cakka dengan nada menyindir
Rio hanya tersenyum geli melihat dua temannya sedang menggoda Alvin.
Alvin yang merasa tersindir langsung melirik kea rah Cakka Iel..
Cakka dan Iel menelan ludahnya, lalu mereka serempak mengatakan “SAATNYA KABOOORRRR”
Lalu keduanya pun berlari entah kemana
“lo suka Vin sama Shilla?” Tanya Rio yang langsung dapat tatapan tajamnya Alvin.
“hehehhe cuman nanya Vin, lo sensi banget sihh” Rio nyengir (?)
Sementara itu, di meja SISA, mereka sedang mengobrol sangat asik, sampai ada yang mengejutkan
“ekhem”. Yaap suara itu sudah tidak asing di telinga Ify. Dia adalah Debo, Debo Andrios Aryanto. Ketua karate putra yang tak kalah popular dengan CRAG. Debo datang bersama Obiet yang naksir Via, dan Dayat yang kebetulan naksir Agni.
“kak Debo, kak Dayat” ucap Shilla.
“gw cuman pengen ngobrol ajah sama kalian” ucap Debo seraya duduk di sebelah Ify.
“Mmm.. Fy nanti lo ada acara gak?” Tanya Debo dengan nada kalemnya.
“emangnya mau ngapain?” Tanya Ify dingin.
“weessss galaknya” ucap Obiet.
“sssttt” Debo mengisnyaratkan bahwa mereka semua pergi.
“eehh lo lo pada mau kemana?” Tanya Ify.
Tapi mereka tidak menjawab. Di kejauhan terdengar suara anak anak yang memanggil manggil nama Debo, dan Ify dapat menyimpulkan bahwa itu adalah fans Debo.
“tuhh, lo liat sendiri.. banyak yang ngejar2 gw” ucap Debo sombong.
“trus ngaruh buat gw ?” Tanya Ify judes (?).
“bukannya gitu Fy, lo harusnya bangga karna gw ngajak jalan lo” ucap Debo yang suaranya sengaja dikeraskan.
“hah? Jalan?” terdengarlah suara seisi kantin, pokoknya heboh banget dehh ceritanya (?).
“waah terima tuh” “kalo gw yang diajak pasti gw mau” “wahh beruntung banget tuh si Ify”. Kira2 seperti itulah omongan cewek2 yang ngefans Debo.
Rio yang melihat itu langsung geram, ia tak tau kenapah dia bisa seperti itu, apa dia jealous? Ahh gak mungkin!
Ify berjalan gontai meninggalkan kantin, dan pastinya meninggal Debo juga.
“gw makin penasaran sama lo,Fy” gumam Debo.

@X IPA-1
Begitu Ify datang, seisi kelas langsung menghampiri Ify, mereka nanya macem2, tapi Ify malah pergi gitu ajah*sombong-_-
Ify langsung duduk di bangkunya.
“lo diapain sama ka Debo?” Tanya Sivia langsung.
“gak diapa apain” ucap Ify SPJ.
“waah, kalo gw jadi lo Fy, gw bakalan seneng banget tuh” ucap Shilla berseri seri.
“dasar lo Shill, ka Alvin mau dikemanain?” Tanya Agni.
“yee Ag, gw kan gak ada hubungan apa apa sama ka Alvi, lagian dianya juga deket banget sama kak Jepana.” Ucap Shilla cemberut/
“Zevana Shill bukan Jepana” ucap Ify membenarkan.
“tadi kenapah kalian ninggalin gw?” Tanya Ify jutek.
“Mmm.. tadi kita kan disuruh sama kak Debo, sebenernya gw juga gak mau ninggalin lo, tapi gw yakin kok ka Debo kan baik, cakep, kece, bijaksana dan tidak lupa ganteng” ucap Shilla tanpa tanda jasa*eh tanda baca
Di sisa2 waktu istirahat, tiba tiba segerombol cewek (?) datang ke meja Ify
“heh lo!” ucap cewek itu sambil menunjuk Ify dan menggebrak meja Ify


BERSAMBUNG……
Geje yaah? :D gak nyambung juga, maklum aku masih penulis baru, ni juga cerbung baru bikin.
LnC sangat dibutuhkan :)
aku bingung mau nge tag siapah, yang kena tag, kalo gak suka apus ajah yaah :)
Follow me
@SilviaNRG

Love of Enemy PART 1

Love of Enemy PART 1

19 Desember 2012 pukul 14:33
Hello ini cerbung pertamaku lho*gakadayangnanya

Oke semoga kalian suka eehh gak ada perkenalan :D langsung ke cerita ajah yaaa
Hope you like it





Di Pagi yang cerah
@Rumah IFy
“non, sarapannya udah siap” ucap sang pembantu
“mamah sama papah kemana?” Tanya sang nona kecil itu
“Nyonya sama Tuan sudah berangkat dari tadi subuh non, ada bisnis di Singapore” jawab bik jum apa adanya
“aku gak sarapan!” “tapi non, nanti sakit gimana?”
“Biarin, mending aku sakit biar bisa diperhatiin ma mamah sama papah”
“huusshh non gak boleh ngomong gitu ah, Nyonya udah bikin memo non”
IFy perlahan mencabut memo itu yang menempel di tempat biasa memo itu disimpan
~Sayang, mamah sama papah pergi duluan
Mamah udah simpan ATM di kotak memo~

Kami mencintaimu
Papah & mamah

Begitulah isi memonya.
“Selalu ajah kayak gini”
Memang ortu IFy terlalu sibuk dengan pekerjaannya, kadang IFy suka mikir kalo dia bukan anak mereka*omg

IFy mengambil ATM itu lalu meneguk susu dan melahap rotinya. Dia pun segera menaiki mobilnya, dan pergi ke sekolah dengan diantar supirnya.

@JKT INSCHOOL (Jakarta Internasional School)*ngarang

Sivia duduk di bangkunya sendiri, dia masih memikirkan soal orang tuanya yang selalu bertengkar setiap hari. Hingga dia dikejutkan oleh aksi marah marahnya Agni yang berhasil menggemparkan seluruh isi Inschool
“lo knapah sih Ag marah marah?” Tanya Sivia yang kesal dengan Agni
“Cakduut sialaaaan, gw dikerjain dia.. tas gw diambil Vi.” Ucap Agni masih dengan amarahnya
“biasanya kan lo berani lawan kak Cakka”
“iyaah dia tadi langsung kabur ajah”
“GOOD MORNING EVERYBODYYYYY.. Hei pagi my preen” dengan wajah berseri seri, Shilla datang.
“ceria banget lo Shill” ucap Sivia
“muka kalian lagi gak ceria yaah? Makanya refreshing donk, biar muka kita awet muda” jelas Shilla
“palingan lo abis ketemu si Alvin kan?” agni menebak
“eehh ag kalo manggil dia, pake ‘kak’ donk. Dia kan kakak kelas. Gw gak ketemu dia tuhh” ucap Shilla, wajah cerianya perlahan luntur setelah mengucapkan kalimat terakhir
“kenapah lo? Mukanya jadi gitu?” Tanya agni yang menyadari perubahan wajah Shilla
“kemaren gw liat kak Alvin jalan bareng sama si Nopa”
“Nova Shill bukan Nopa” Sivia membenarkan
TEEEET TEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTT
Bunyi bel berbunyi sangat panjang*dari Sabang sampe Merauke (?)

@IX IPA-I
“lho, udah jam segini kok IFy belom dateng yaah?” Tanya Sivia
“ gak biasanya yaah dia telat” “gawat nihh. Sekarang pelajaran Bu Winda, bisa dikeluarin tuh Si IFy” Shilla menambahkan
guru sudah masuk ke kelas SISA, tapi IFy tak kunjung datang.
**
IFy lari terbirit birit (?) dan akhirnya…….
“Braaakkk”
“aduuhh…” ucap IFy
“lo bisa liat gak sih?” Tanya orang yang bertabrakan dengan IFy. Yaaap tak lain dan tak bukan dia adalah Mario Stevano Aditya Haling atau yang kerap dipanggil Rio, waketos Inschool
“heh lo kali yang gak liat, gw tadi udah liat liat” ucap IFy kesal
“enak ajah lo ngomong, jelas jelas elo yang salah” ucap Rio tak mau kalah
“ELO”
“ELO”
“ELO”
“LO”
“LO”
“LO”
“LO”
“LO”
“LO”
“LO”
“LO” dan akhirnya
“stop stop stop thinking about you” ucap satpam yang sudah akan menutup gerbangnya.
IFy dan Rio cengo mendengar satpam yang malah menyanyikan lagu BLINK.
“kalian mau masuk gak?” Tanya satpam itu.
“iyaa yayaya mau pak” ucap RiFy berbarengan
Setelah masuk sekolah, di koridor masih saja mereka adu mulut sana sini (?)
“gara gara lo, baju gw jadi kotor” ucap Rio sambil mencoba membersihkan kotornya itu
“dan gara gra lo juga rok gw kotor!” ucap IFy tak mau kalah.
Hingga pertengkaran mereka harus terhenti karena arah kelas mereka berbeda
“liat ajah nanti yaa lo” ucap Rio sambil berlari kea rah kelasnya
IFy tak meenghiraukan Rio, dia segera berlari menuju kelasnya. Baru sajh IFy akan masuk, tapi suara BU winda sudah menyambutnya -_-
“IFY! Kamu tau ini jam berapah?” Tanya bu winda yang terlihat santai tapi menyeramkan
“Tau bu, jam 7 kan?” Tanya IFy watados
“kamu dihukum, berdiri di depan tiang berdera selama pelajaran ibu berlangsung!”
IFy pun berjaln menuju tiang bendera, ternyata disan juga ada Rio
‘kenapah harus ada dia sih’ rutuk IFy dalam hati
IFy pun segera mendekati tiang bendera itu lalu hormat ditengah panasnya matahari yang menembus punggungnya
“kena juga yaa lo” Rio tersenyum mengejek
“iyaa, lo juga kena! Knapah ngejek gw hah?” IFy mulai emosi dengan Rio
“lo tuhh baru juga bentar, muka lo udah merah ajah. Malu yaah diliatin orang2?”
IFy melirik ke belakang, ternyata benar, di sekelilinnya banyak orang yang menonton mereka. IFy tau, pasti ini semua karna adnya Rio. Rio memang sangat sangat sangat popular di sekolah, dan sudah mempunyai fans khusus
IFy mendelik pada Rio, Rio tiba2 mendekai IFy, lalu dia mengelap (?) keringat di kening IFy. Cewek2 langsung menjerit, ada juga yang menggigit jarinya saking terkejut dan merasa iri pada IFy
“eh..” IFy tersentak dengan perlakuan Rio. “apaan sihh lo Yo?” Tanya IFy berusaha menyembunyikan saltingnya.
“kenapah? Lo salting? Malu yaah? Mati gaya? Kikuk?” tnya Rio beruntun
Semua yang disebutkan oleh Rio memang benar, tapi IFy mencoba menyembunyikannya. Tapi Rio sudah bisa membaca otak IFy
“ge er banget lo! So kecakepan iihh”
“tapi gw cakep kan Fy?” Tanya Rio mendekati muka IFy lagi dan menggoda IFy lagi.
“iiihh cakep kalo diliat dari monas!” ucap IFy jutek
“lo juga cantik Fy, manis lagi, senyuman lo bikin yang liat jadi terpesona….” Ucap Rio terputus. IFy merona, “tapi kalo diliat pake mikroskop diatas monas hahahha” lanjut Rio yang membuat IFy merah padam.
“RIOOOOO” teriak Ify.
“eeh sayang jangan gitu donk.” Ucap Rio manis
Cewek yang ada disana seketika ingin mati sajah menndenger perkataan Rio.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang melihat aksi Rio, lalu mengepalkan tangannya. Dia begitu emosi melihatnya.

BERSAMBUNG……..
Pendek yaah? Jelek yaah? Gak nyambung juga -__-
Gak papah yang penting ini asli buatan saya :)
Like & Comment sangat dibutuhkan
Bila ada yang mau di TAG, komen ajah*gakadakali
Follow me
@SilviaNRG