“Zevana itu siapa, Shill?” Ify langsung bertanya begitu pintu di depannya terbuka.
“Gue juga
nggak tau,” sambil melebarkan daun pintu, Shilla menjawab ringan.
Dua orang di depannya kontan menatap nyureng dengan kedua alis menyatu.
“Gimanasih lo!?” seru Ify dan Agni hampir bersamaan. Shilla tertawa geli.
“Ya emang gue nggak tau cewek itu siapa. Gini lho…” Shilla berjalan ke arah meja tamu dan menarik sebuah album foto dari bawahnya. “Ceritanya sih simple aja.Waktu lo bilang cowok tiga itu jebolan SMA Santo Martin, iseng gue pinjem album fotonya Zahra. Tau kan lo? Sepupu gue yang sekolah disana juga? Dan gue nemu ini…” Shilla menunjuk salah satu foto. “Nih, coba liat!”
Ifydan Agni langsung duduk di kiri-kanan Shilla. Dan mata mereka kontan membesar.Di foto itu, di depan spanduk besar bertuliskan “ACARA PELEPASAN”, diantara kerumunan manusia yang berebut untuk bisa terekam kamera, Alvin duduk di rumput. Menatap ke arah kamera dengan tawa lebar dan lambaian tangan kanan. Sementara tangan kirinya memeluk erat seorang cewek manis berambut panjang, yang dengan manjanya menyandarkan kepala di dada Alvin.
“Gile, mesra amat. Jadi ini yang namanya Zevana?” tanya Ify
Shilla mengangguk.
“Apa anehnya?” tanya Agni. “Mungkin ini emang ceweknya Alvin waktu itu, waktu dia belom kenal Sivia.Alvin sama Sivia jadiannya belom ada setaun, lagi. Ini acara perpisahan taun berapa?”
“Taun kemaren. Barengan kita lulus-lulusan juga.”
“Yah,Sivia sama Alvin belom jadian, Shill.”
“Ini prolog dulu, Ag. Yang sebenernya mau gue tunjukkin ke elo berdua tuh… ini!”dengan gaya penuh kemenangan, Shilla menarik sebuah majalah dari bawah meja, lalu membuka tengahnya. “Silakan diliat!”
Dengan kening terlipat, Ify meraih lembaran foto yang ada di tengah-tengah majalah.Seketika dia dan Agni ternganga. Foto-foto itu, foto-foto Alvin yang tengah memeluk Zevana. Zevana yang dibalut busana penari Jaipong, dengan bahu terbuka dan kostum yang membentuk tubuhnya seperti bas betot.
“Ini foto dua bulan lalu!” ucap Shilla dengan nada puas. “Waktu itu Zevana lagi pentas. Di Taman Mini, anjungan mana gitu. Gue lupa. Untuk diketahui, Zevana itu penari. Info ini gue dapet dari Zahra. Kata Zahra, Zevana kalo nari Jaipong, wiiiiih… heboh! Erotis, gitu!”
“Sivia juga penari,” kata Ify tanpa mengalihkan matanya dari foto-foto itu.
“Dankata Zahra mengutip dari anak ‘Pustaka dan Dokumentasi’, organisasi ekskul fotografi SMA Santo Martinlah yang dapet tugas dari sekolah untuk mendokumentasikan keikutsertaan wakil sekolah mereka di acara itu…,” sambung Shilla. “Abis acara itu, Zevana nangis-nangis bombai, trus besoknya nggak masuk sekolah sampe tiga hari!”
“Nggak masuk sekolah?” Ify dan Agni bertanya hampir bersamaan. “Dia belom kuliah?”Sambung Ify.
“Belom. Dia masih kelas tiga SMA!”
“Hah!?”Ify dan Agni berseru bersamaan.
“Kaget, kan? Kaget, kan?” Shilla meringis.Senang usahanya berhasil mengagetkan teman-temannya.
“Jelas Zevana ini ceweknya Alvin yang laen!” tegas Agni. “Orang dia sampe nyiptain tarian khusus segala. Kalo bukan pacar, ngapain lagi sampe begitu?”
“Iya emang? Tarian apaan sih?” tanya Shilla
“Lha, kan elo yang bilang waktu itu?”
“Bilang apa?”
“Yeee…!”Agni kontan melotot. Ify tertawa geli, sudah bisa menebak bahwa itu hasil karangan Shilla.
“jangan bilang waktu itu lo asal ngomong deh, Shill”
“Emangnya gue ngomong apa aja sih waktu itu? Soalnya gue lupa nih. Bener!”
“Lo kayak gak tau Shilla aja, Ag. Dia kan suka asal buka mulut.”
“Wah, emang nekat lo!” Agni ternganga. “Jadi lo ngomong blablabla panjang bener waktu itu, itu ngarang semua?”
“Sebagian besar. Zahra Cuma tau Zevana itu suka nari sama baca-baca novel Harlequin,gitu. Terus gue kembangin aja berdasarkan itu,” jawab Shilla enteng. “Gue ngarang mendadak tuh. Makanya sekarang lupa!”
“Yaampun!” Agni geleng-geleng kepala. “Kok bisa pas sih?”
“Zahra tau, yang pasti Zevana itu siapanya Alvin?”tanya Ify.
“Nggak. Orang dia nggak kenal sama tuh cewek. Nggak pernah sekelas. Tapi dia pernah ngeliat Zevana berkali-kali dijemput Alvin.Malah kalo jalan pake dipeluk segala. Kayak yang lo liat di foto-foto itu.”
“Wow…!”Ify dan Agni saling pandang sambil memainkan alis. “Mister Nice Guy-nya Sivia ternyata…” dua-duanya nyengir lebar.
***
Di areal parkir di depan gedung rektorat, Alvin duduk terdiam di belakang setir Jeep Wrangler cokelatnya sejak beberapa saatlalu. Ia masih tidak bisa percaya, rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat, terbongkar tiba-tiba. Harus dia cari tahu siapa cewek yang sudah datang ke kampus dan bikin gara-gara itu! Karena setelah dia ke rumah Zevana kemarin, cewek yang belum lama dilepasnya itu juga sama kagetnya.
Zevana mengaku telah bisa menerima cerita cinta mereka yang berakhir dua bulan lalu itu, dan menjadikannya masa lalu. Ia tak ingin lagi berusaha mengingat, apalagi bertemu. Dan saat Alvin menyebutkan ciri-ciri cewek sialan itu, juga sama omongannya, Zevana geleng kepala. Mengatakan tidak mengenal cewek itu sama sekali. Bingung, kan?
Kepala Alvin langsung terangkat saat Kijang hijau tua yang ditunggunya muncul digerbang kampus. Buru-buru ditekannya klakson, memberi isyarat agar Ify parkir di sebelahnya.
“Wah, kayaknya dia tau kalo kejadian waktu itu gara-gara kita, Fy!” desis Agni.
“Gimanabisa?”
“Itu buktinya. Dia sengaja nungguin kita di sini. Gimana nih?”
Ify menatap Alvin yang kelihatan semakin tidak sabar. Tangan cowok itu melambai, minta mereka supaya cepat. Dengan cemas Ify menuruti perintah itu.
“Ada apa?” tanyanya dengan sikap yang dipaksa terlihat wajar.
“Soal cewek yang dateng ke sini waktu itu.”
Kedua cewek itu kontan tercekat, tapi buru-buru Ify menutupi kekagetannya itu.
“Iya,kan? Ketauanjuga lo akhirnya!” tukas Ify. “Dari pertama gue udah nggak percaya. Lo pasti Cuma pura-pura alim. Biar Sivia nggak curiga. Iya, kan?”
“Gue nggak perlu komentar lo. Gue nunggu di sini karena ada yang mau gue tanya. Dia bilang apa aja waktu itu? Sebelum nemuin gue.”
“Nggak ada. Dia Cuma nanyain kelas lo. Ya gue tunjukkin.”
“Cuma itu? Sivia nanya apa aja ke dia?”
“Sivia nggak ngomong apa-apa”
“Yang bener?”
“Bener!”
Alvin terdiam, kelihatan lega. Dia tidak tahu, kedua cewek didepannya juga merasa lega, karena tidak terbongkar merekalah biang keroknya.
“Lobisa nolongin gue nggak, Fy? Tolong cari tau siapa tuh cewek.”
“Kan dia disuruh sama Zevana. Lo tanyain si Zevana dong. Eh, tapi Zevana itu siapa sih?”
Alvin menyeringai. “Nggak akan gue kasihtau!”
“Nggak masalah.” Ify mengibaskan tangan. “Lagian siapa juga yang pengen tau? Sivia emang polos. Tapi gue nggak. Model kayak elo sih gue bisa baca!”
Agni ketawa. Tapi buru-buru diam begitu Alvin menatapnya tajam.
“Zevana nggak kenal tuh cewek!”
“Hah!?Nggak kenal? Ify berlagak kaget banget. “Wah! Aneh banget tuh! Oke deh. Lo tenang aja.Ntar gue selidikin siapa cewek kurang ajar itu!”
“Kapan gue dapet kabar?”
“Ya nggak bisa dipastiin. Orang nyarinya kemana aja, kami belom tau. Pokoknya begitu udah kami temuin tuh cewek, secepetnya kami kasih tau elo”
“Oke kalo gitu. Gue tunggu. Thanks banget, Fy.”
“You’re welcome,” Ify menjawab manis.
Alvin pergi tanpa curiga. Dan begitu dia hilang di koridor utama kampus, Ify dan Agni kontan cekakakan sampai sakit perut. Dan agar niat mereka untuk menolong itu kelihatan serius, mereka berdua lalu menyatroni SMA Alvin dulu-yang juga SMA-nyaRio dan Cakka-SMA Santo Martin.
Ify dan Agni duduk di bangku semen di dekat gerbang dan mulai memerhatikan siswi-siswi SMA itu satu per satu. Mencari satu orang saja yang agak-agak mirip Shilla.
Ajaibnya…Ada lho! Kontan keduanya melongo begitu cewek itu melintas di hadapan mereka. Memang tidak mirip-mirip amat sih. Tapi tidak masalah. Yang penting ada target buat dijadikan kambing hitam!
Keduanya langsung melompat bangun dan diam-diam mengikuti dari belakang. Dan dari beberapa orang yang menyapa cewek itu, mereka jadi tahu nama cewek itu Dea.Tanpa buang waktu, Ify langsung lapor ke Alvin bahwa dia sudah menemukan oknum teroris itu.
“Namanya Dea, Vin. Anak Santo Martin juga. Tapi nggak tau kelas berapa.”
“Nggak apa-apa. Itu juga udah cukup. Thanks.”
Dan tanpa selidik lagi-malah tanpa buang waktu lagi- Alvin langsung menemui Zevana, memintanya untuk bicara dengan si Dea itu, Ify mengontak Shilla. Minta tolong supaya Zahra, sepupu Shilla yang sekolah di Santo Martin untuk memonitor.
Dan menurut laporan Zahra via Shilla, besoknya Zevana dan Dea ribut besaaar!
Zevana mendatangi Dea di kelasnya dan langsung mengamuk. Dia menbentak-bentak Dea saat kelasnya sedang ramai. Memaksa cewek itu mengaku, apa maksudnya mencari Alvin sampai ke kampus segala!
Sementara Dea yang tidak mengerti “ada apakah gerangan?” jelas saja tidak terima dimaki-maki di depan banyak mata begitu. Dia langsung balas marah-marah juga.
Perkembangan berikutnya benar-benar di luar dugaan. Zevana dan Dea muncul di kampus Universitas Sagarmatha.
“Siapa yang namanya Alvin!?”tanya Dea galak.
“Gue,”jawab Alvinbingung.
“Elo!?”seketika kedua mata Dea menyorot Alvin dengan tajam dan penuh kemarahan. Dia lalu melangkah mendekat dan pasang badandi depan Alvin persis. Meskipun badannya imut, mirip Shilla, tapi berhubung telah menjadi korban fitnah dengan sangat semena-mena, dia jadi tidak takut, “Apa maksud lo!?Kapan gue pernah dateng ke sini nyariin elo!? Siapa lo aja gue nggak tau.Jangan sembarangan dong lo! Dia marah-marah sama gue!” Tangannya menunjuk muka Zevana, dekat dan lurus-lurus. “Nuduh gue macem-macem. Gue udah punya cowok,tau! Ngapain juga gue ngerebut pacar orang!?”
Ify menarik Agni keluar dari kerumunan. Keduanya semakin memasang tampang se-innocent mungkin. Saat suasana kisruh begitu, Sivia menunjukkan satu poin lebihnya sebagai cewek yang dibesarkan di lingkungan aristokrat tulen. Dengan suara anggun, tenang, dan berwibawa, dipotongnya omelan Dea yang sudah seperti petasan renceng saking emosinya.
“Kita ngomong di tempat lain. Bisa ditahan emosinya sebentar, kan?”
Sivia, Alvin, sang “Sephia” Zevana, dan si “kambing hitam malang” Dea, lalu pergi entah kemana.
“Alviiin…Alvin… Ada-ada aja!” Cakka tertawa geli. Di sebelahnya, Rio menyeringai lebar. Tertawa tanpa suara.
“Ada apa sih? Siapa tuh cewek?” Tanya Ify dengan ekspresi muka setenang pemukaan danau pada saat angin malas bertiup.
“Nggak tau.” Kedua cowok di depannya geleng kepala bersamaan.
Lama juga. Setengah jam lebih baru Alvin kembali dan langsung menghampiri Ify.
“Bukan dia, lagi!” desisnya dongkol.
“Yaaa, sori deh, Viiiin…,” Ify berlagak menyesal telah salah tunjuk. “Abisnya gue lupa-lupa inget tampangnya. Namanya juga baru ngeliat sekali.”
“Kenapa nggak lo cari sendiri?” tanya Rio tajam. Tidak terima ceweknya disalahkan.
“Ck!”Alvin berdecak. Ingin marah tapi tidak tahu harus ke siapa. “Lo pada pulang duluan deh. Gue masih ada urusan!”
“Oke!”Cakka mengangguk, menahan tawa. “Udahlah, nggak usah disesalin. Dari dulu gue udah bilang, mendingan kayak gue. Punya belang kasih liat aja. Daripada kebongkar begini.”
“Dasar babon!” bisik Agni di kuping Ify.
“Yuk, balik! Balik!” ajak Rio sambil meraih tangan Ify. Berempat, kemudian mereka tinggalkan tempat itu. Juga Alvin yang mukanya lecek berat.
***
Ify baru pulang dari rumah Shilla bersama Agni, menyampaikan perkembangan heboh itu, waktu ibunya bilang bahwa seharian Sivia bolak-balik menelepon. Ify dan Agni saling pandang sesaat, lalu buru-buru berlari ke meja telepon.
“Kenapa dia nggak telepon ke HP sih?” ucap Ify sambil memutar nomor.
“Berarti dia shock berat, Fy. Sampe jadi bego!” jawab Agni sambil menarik kursi rapat-rapat ke sebelah Ify.
“Halo?Juminem? Ndoro Gusti kamu ada nggak? Ini dari Yang Mulia Ndoro Gusti Ify!”
“Elo, Fy!” Agni terkikik, tapi buru-buru menutup mulut. Takut terdengar orang disebrang.
“Halo?Ada apa, Vi?Kata nyokap gue, lo bolak-balik nelepon…? Iya, gue abis nganterin Agni. Lo kan tau dia paling nggak bisa kalo ngeliat ada kaus yang lucu. Pasti pengen punya… Oh, iyalah. Kaus ditoko. Bukan di jemuran orang. Kalo itu sih gue ogah nemenin. Bukan apa-apa.Tanggung soalnya kalo Cuma kaus. Mending sekalian sama jins atau seprai, gitu.Apalagi kalo bisa dapet baju pesta. Lumayan banget tuh!”
Sampai disitu, omongan Ify terputus tawa berderai Agni. Sementara Sivia Cuma tersenyum tipis. Sudah tidak kaget lagi dengan mulut Ify yang memang sering ngaco.
“Itu,Fy… waktu ke rumah gue itu, lo sebenernya mau ngomong apa?”
“Oh, yang waktu itu? Nggak. Gue Cuma mau ngasih tau lo aja, cowok-cowok itu ternyata pada bohong. Selama ini kan mereka selalu bilang kalo kegiatan-kegiatan itu Cuma untuk intern. Kalo nggak begitu, ya mereka ngasih alasan macem-macem deh. Kesannya orang awam gunung kayak kita-kita gini bakalan Cuma ngerepotin, nyusahin aja. Makanya gue punya rencana mau bikin mata mereka melek. Kalo Cuma naek gunung aja sih… kita juga bisa!”
“Terus?”
“Terus apanya?”
“Ya rencana lo itu.”
Sepasang mata Ify melebar. Si ningrat ini terbakar jealous juga akhirnya! Diacungkannya jempol ke Agni sambil mengedipkan mata. Lalu diubahnya suaranya seperti orang yang sudah pasrah.
“Yaaah, gimana ya? Setelah gue pikir-pikir, omongan lo itu ada benernya juga, Vi. Buat apa protes? Orang mereka dari dulu emang udah begitu. Ya udahlah. Terima aja.”
“Hmmm,begitu?” suara Sivia terdengar agak sedih, tapi Ify berlagak tidak paham.
“Iya,Vi. Begitu aja. Ngapain lagi pusing-pusing? Emang kenapa sih?”
“Nggak!Nggak apa-apa!” jawab Sivia buru-buru. “Tapi… waktu lo dateng ke rumah gue itu…lo udah punya rencana mateng atau baru gagasan?”
“Ya jelas planning mateng dong.”
“Besok pulang kuliah lo langsung ke rumah gue ya? Gue pengen tau.”
“Buat apa? Kan nggak jadi?”
“Nggak apa-apa. Gue Cuma pengen tau aja. Ya?”
“Iya deh. Terserah elo.”
Telepon di sebrang di tutup. Ify langsung tertawa keras-keras.
“Berhasil, Ag! Jealous juga dia akhirnya. Emangnya enak, dibohongin di belakang? Besok kita disuruh ke rumahnya. Di mau nanyain soal rencana gue itu!”
***
Jam dua belas tepat, kuliah hari ini berakhir.
“Makan siomay dulu yuk, Fy? Dari semalem gue belum makan nih. Terus abis itu kita makan dulu rujak sebentar.”
“Rujak melulu lo. Diare baru tau rasa. Kita makan di rumah Sivia aja. Pasti deh ntar ditawarin makan.”
“Tidak!Cukup sekali!”
Ify tertawa. Dia tahu kenapa Agni ogah. Mereka memang pernah makan malam di rumah Sivia. Sekali. Namanya ditawari makan, jelas saja langsung mereka sambut dengan girang. Barangkali saja mereka akan menemukan masakan zaman kerajaan-kerajaan dulu.
Tapi ternyata, suasana di meja makan di rumah Sivia jauh lebih khidmat daripada upacara tujuh belasan di Istana Negara! Mirip di film-film horror, begitu hening dan sunyi mencekam! Hanya bunyi desau-desau angin yang menggoyang pucuk-pucuk dedaunan di luar sana.
Gimana nggak? Makan tidak boleh sambil ngomong, apalagi cekikikan kayak kuntilanak.Mulut juga harus tetap ditutup. Bibir harus rapat dan baru boleh dibuka kalau makanan mau masuk. Saat sendok beradu dengan garpu atau piring, tidak boleh sampai mengeluarkan suara. Dan makannya juga harus sampai benar-benar bersih.Satu butir nasi pun tidak boleh ada yang tertinggal.
Alhasil,dimana-mana yang namanya habis makan kan biasanya jadi kenyang. Tapi kalau di rumah Sivia, habis makan malah jadi…puyeng!
Sementara itu Sivia sedang melamun di teras rumahnya, menunggu. Ini pertama kalinya dia membuka diri. Tadinya dia berpikir, dirinya takkan pernah membutuhkan Ify dan Agni. Karena di mata Sivia, dua cewek itu benar-benar cewek kasar! Tipikal masyarakat golongan kasta rendah. Urakan, tidak tahu tata karma. Kalau bicara seenak udel. Ketawanya juga mirip Buto Ijo! Kalau bercanda tidak peduli tempat,tidak peduli situasi. Meskipun sedang makan, mulut penuh, keduanya bisa saling mencela dengan sangat seru dan riuh.
Dan yang sempat membuat Sivia shock, tiba-tiba saja dia dianggap bukan siapa-siapa.Ify dan Agni sama sekali tidak terkesan dengan darah biru tulen dan gelar kebangsawanan di depan namanya. Boro-boro hormat seperti kebanyakan orang memperlakukan dia dan keluarganya. Memandangnya saja dengan sebelah mata.
“Permisiii…”
Sivia tersentak dari lamunan. Dia berdiri dan segera melangkah menuju pintu gerbang.
“Masuk,”ajaknya. Ify dan Agni melangkah masuk dengan tertib lalu duduk dengan sopan dikursi teras.
“Makan dulu yuk? Udah jam satu lewat nih”
Keduanya kontan menjawab kompak, “Nggak usah, Vi. Terima kasih. Kami udah makan kok.Nggak usah repot-repot deh.”
“Ya udah kalo begitu,” Sivia tidak memaksa. “Kita ke kamar gue aja yuk?” Dia berjalan ke dalam. Ify dan Agni buru-buru berdiri dan mengekor di belakangnya.
“Jadi rencana gue itu begini, Vi,” Ify langsung menjelaskan rencananya, setelah mereka duduk berhadapan di dalam kamar. Tentu saja dengan tidak lupa berakting seolah-olah dia sudah tidak ada niat untuk balas dendam lagi. Seperti kebiasaannya, Sivia mendengarkan tanpa menyela, sampai Ify selesai menjelaskan semuanya. “Begitu, Vi, rencana gue.”
Sivia mengangguk lambat-lambat. Ditatapnya dua wajah di depannya. Tanpa dia tahu,wajah-wajah itu Cuma polos luarnya aja.
“Kalo kita jadiin, gimana?” tanya Sivia.
“Maksudnya?”tanya Ify, dalam hati siap sorak-sorak.
“Maksudnyaaa…ya kita bikin mata mereka melek!”
Wajah-wajah di depannya langsung tersentak dan menatapnya lurus. Tidak percaya.
“Bener nih? Lo setuju?” seru Ify tertahan.
“Iyadong! Cowok-cowok kita kanpada kompak. Jadi kita harus kompak juga!”
************************************

“Gimanasih lo!?” seru Ify dan Agni hampir bersamaan. Shilla tertawa geli.
“Ya emang gue nggak tau cewek itu siapa. Gini lho…” Shilla berjalan ke arah meja tamu dan menarik sebuah album foto dari bawahnya. “Ceritanya sih simple aja.Waktu lo bilang cowok tiga itu jebolan SMA Santo Martin, iseng gue pinjem album fotonya Zahra. Tau kan lo? Sepupu gue yang sekolah disana juga? Dan gue nemu ini…” Shilla menunjuk salah satu foto. “Nih, coba liat!”
Ifydan Agni langsung duduk di kiri-kanan Shilla. Dan mata mereka kontan membesar.Di foto itu, di depan spanduk besar bertuliskan “ACARA PELEPASAN”, diantara kerumunan manusia yang berebut untuk bisa terekam kamera, Alvin duduk di rumput. Menatap ke arah kamera dengan tawa lebar dan lambaian tangan kanan. Sementara tangan kirinya memeluk erat seorang cewek manis berambut panjang, yang dengan manjanya menyandarkan kepala di dada Alvin.
“Gile, mesra amat. Jadi ini yang namanya Zevana?” tanya Ify
Shilla mengangguk.
“Apa anehnya?” tanya Agni. “Mungkin ini emang ceweknya Alvin waktu itu, waktu dia belom kenal Sivia.Alvin sama Sivia jadiannya belom ada setaun, lagi. Ini acara perpisahan taun berapa?”
“Taun kemaren. Barengan kita lulus-lulusan juga.”
“Yah,Sivia sama Alvin belom jadian, Shill.”
“Ini prolog dulu, Ag. Yang sebenernya mau gue tunjukkin ke elo berdua tuh… ini!”dengan gaya penuh kemenangan, Shilla menarik sebuah majalah dari bawah meja, lalu membuka tengahnya. “Silakan diliat!”
Dengan kening terlipat, Ify meraih lembaran foto yang ada di tengah-tengah majalah.Seketika dia dan Agni ternganga. Foto-foto itu, foto-foto Alvin yang tengah memeluk Zevana. Zevana yang dibalut busana penari Jaipong, dengan bahu terbuka dan kostum yang membentuk tubuhnya seperti bas betot.
“Ini foto dua bulan lalu!” ucap Shilla dengan nada puas. “Waktu itu Zevana lagi pentas. Di Taman Mini, anjungan mana gitu. Gue lupa. Untuk diketahui, Zevana itu penari. Info ini gue dapet dari Zahra. Kata Zahra, Zevana kalo nari Jaipong, wiiiiih… heboh! Erotis, gitu!”
“Sivia juga penari,” kata Ify tanpa mengalihkan matanya dari foto-foto itu.
“Dankata Zahra mengutip dari anak ‘Pustaka dan Dokumentasi’, organisasi ekskul fotografi SMA Santo Martinlah yang dapet tugas dari sekolah untuk mendokumentasikan keikutsertaan wakil sekolah mereka di acara itu…,” sambung Shilla. “Abis acara itu, Zevana nangis-nangis bombai, trus besoknya nggak masuk sekolah sampe tiga hari!”
“Nggak masuk sekolah?” Ify dan Agni bertanya hampir bersamaan. “Dia belom kuliah?”Sambung Ify.
“Belom. Dia masih kelas tiga SMA!”
“Hah!?”Ify dan Agni berseru bersamaan.
“Kaget, kan? Kaget, kan?” Shilla meringis.Senang usahanya berhasil mengagetkan teman-temannya.
“Jelas Zevana ini ceweknya Alvin yang laen!” tegas Agni. “Orang dia sampe nyiptain tarian khusus segala. Kalo bukan pacar, ngapain lagi sampe begitu?”
“Iya emang? Tarian apaan sih?” tanya Shilla
“Lha, kan elo yang bilang waktu itu?”
“Bilang apa?”
“Yeee…!”Agni kontan melotot. Ify tertawa geli, sudah bisa menebak bahwa itu hasil karangan Shilla.
“jangan bilang waktu itu lo asal ngomong deh, Shill”
“Emangnya gue ngomong apa aja sih waktu itu? Soalnya gue lupa nih. Bener!”
“Lo kayak gak tau Shilla aja, Ag. Dia kan suka asal buka mulut.”
“Wah, emang nekat lo!” Agni ternganga. “Jadi lo ngomong blablabla panjang bener waktu itu, itu ngarang semua?”
“Sebagian besar. Zahra Cuma tau Zevana itu suka nari sama baca-baca novel Harlequin,gitu. Terus gue kembangin aja berdasarkan itu,” jawab Shilla enteng. “Gue ngarang mendadak tuh. Makanya sekarang lupa!”
“Yaampun!” Agni geleng-geleng kepala. “Kok bisa pas sih?”
“Zahra tau, yang pasti Zevana itu siapanya Alvin?”tanya Ify.
“Nggak. Orang dia nggak kenal sama tuh cewek. Nggak pernah sekelas. Tapi dia pernah ngeliat Zevana berkali-kali dijemput Alvin.Malah kalo jalan pake dipeluk segala. Kayak yang lo liat di foto-foto itu.”
“Wow…!”Ify dan Agni saling pandang sambil memainkan alis. “Mister Nice Guy-nya Sivia ternyata…” dua-duanya nyengir lebar.
***
Di areal parkir di depan gedung rektorat, Alvin duduk terdiam di belakang setir Jeep Wrangler cokelatnya sejak beberapa saatlalu. Ia masih tidak bisa percaya, rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat, terbongkar tiba-tiba. Harus dia cari tahu siapa cewek yang sudah datang ke kampus dan bikin gara-gara itu! Karena setelah dia ke rumah Zevana kemarin, cewek yang belum lama dilepasnya itu juga sama kagetnya.
Zevana mengaku telah bisa menerima cerita cinta mereka yang berakhir dua bulan lalu itu, dan menjadikannya masa lalu. Ia tak ingin lagi berusaha mengingat, apalagi bertemu. Dan saat Alvin menyebutkan ciri-ciri cewek sialan itu, juga sama omongannya, Zevana geleng kepala. Mengatakan tidak mengenal cewek itu sama sekali. Bingung, kan?
Kepala Alvin langsung terangkat saat Kijang hijau tua yang ditunggunya muncul digerbang kampus. Buru-buru ditekannya klakson, memberi isyarat agar Ify parkir di sebelahnya.
“Wah, kayaknya dia tau kalo kejadian waktu itu gara-gara kita, Fy!” desis Agni.
“Gimanabisa?”
“Itu buktinya. Dia sengaja nungguin kita di sini. Gimana nih?”
Ify menatap Alvin yang kelihatan semakin tidak sabar. Tangan cowok itu melambai, minta mereka supaya cepat. Dengan cemas Ify menuruti perintah itu.
“Ada apa?” tanyanya dengan sikap yang dipaksa terlihat wajar.
“Soal cewek yang dateng ke sini waktu itu.”
Kedua cewek itu kontan tercekat, tapi buru-buru Ify menutupi kekagetannya itu.
“Iya,kan? Ketauanjuga lo akhirnya!” tukas Ify. “Dari pertama gue udah nggak percaya. Lo pasti Cuma pura-pura alim. Biar Sivia nggak curiga. Iya, kan?”
“Gue nggak perlu komentar lo. Gue nunggu di sini karena ada yang mau gue tanya. Dia bilang apa aja waktu itu? Sebelum nemuin gue.”
“Nggak ada. Dia Cuma nanyain kelas lo. Ya gue tunjukkin.”
“Cuma itu? Sivia nanya apa aja ke dia?”
“Sivia nggak ngomong apa-apa”
“Yang bener?”
“Bener!”
Alvin terdiam, kelihatan lega. Dia tidak tahu, kedua cewek didepannya juga merasa lega, karena tidak terbongkar merekalah biang keroknya.
“Lobisa nolongin gue nggak, Fy? Tolong cari tau siapa tuh cewek.”
“Kan dia disuruh sama Zevana. Lo tanyain si Zevana dong. Eh, tapi Zevana itu siapa sih?”
Alvin menyeringai. “Nggak akan gue kasihtau!”
“Nggak masalah.” Ify mengibaskan tangan. “Lagian siapa juga yang pengen tau? Sivia emang polos. Tapi gue nggak. Model kayak elo sih gue bisa baca!”
Agni ketawa. Tapi buru-buru diam begitu Alvin menatapnya tajam.
“Zevana nggak kenal tuh cewek!”
“Hah!?Nggak kenal? Ify berlagak kaget banget. “Wah! Aneh banget tuh! Oke deh. Lo tenang aja.Ntar gue selidikin siapa cewek kurang ajar itu!”
“Kapan gue dapet kabar?”
“Ya nggak bisa dipastiin. Orang nyarinya kemana aja, kami belom tau. Pokoknya begitu udah kami temuin tuh cewek, secepetnya kami kasih tau elo”
“Oke kalo gitu. Gue tunggu. Thanks banget, Fy.”
“You’re welcome,” Ify menjawab manis.
Alvin pergi tanpa curiga. Dan begitu dia hilang di koridor utama kampus, Ify dan Agni kontan cekakakan sampai sakit perut. Dan agar niat mereka untuk menolong itu kelihatan serius, mereka berdua lalu menyatroni SMA Alvin dulu-yang juga SMA-nyaRio dan Cakka-SMA Santo Martin.
Ify dan Agni duduk di bangku semen di dekat gerbang dan mulai memerhatikan siswi-siswi SMA itu satu per satu. Mencari satu orang saja yang agak-agak mirip Shilla.
Ajaibnya…Ada lho! Kontan keduanya melongo begitu cewek itu melintas di hadapan mereka. Memang tidak mirip-mirip amat sih. Tapi tidak masalah. Yang penting ada target buat dijadikan kambing hitam!
Keduanya langsung melompat bangun dan diam-diam mengikuti dari belakang. Dan dari beberapa orang yang menyapa cewek itu, mereka jadi tahu nama cewek itu Dea.Tanpa buang waktu, Ify langsung lapor ke Alvin bahwa dia sudah menemukan oknum teroris itu.
“Namanya Dea, Vin. Anak Santo Martin juga. Tapi nggak tau kelas berapa.”
“Nggak apa-apa. Itu juga udah cukup. Thanks.”
Dan tanpa selidik lagi-malah tanpa buang waktu lagi- Alvin langsung menemui Zevana, memintanya untuk bicara dengan si Dea itu, Ify mengontak Shilla. Minta tolong supaya Zahra, sepupu Shilla yang sekolah di Santo Martin untuk memonitor.
Dan menurut laporan Zahra via Shilla, besoknya Zevana dan Dea ribut besaaar!
Zevana mendatangi Dea di kelasnya dan langsung mengamuk. Dia menbentak-bentak Dea saat kelasnya sedang ramai. Memaksa cewek itu mengaku, apa maksudnya mencari Alvin sampai ke kampus segala!
Sementara Dea yang tidak mengerti “ada apakah gerangan?” jelas saja tidak terima dimaki-maki di depan banyak mata begitu. Dia langsung balas marah-marah juga.
Perkembangan berikutnya benar-benar di luar dugaan. Zevana dan Dea muncul di kampus Universitas Sagarmatha.
“Siapa yang namanya Alvin!?”tanya Dea galak.
“Gue,”jawab Alvinbingung.
“Elo!?”seketika kedua mata Dea menyorot Alvin dengan tajam dan penuh kemarahan. Dia lalu melangkah mendekat dan pasang badandi depan Alvin persis. Meskipun badannya imut, mirip Shilla, tapi berhubung telah menjadi korban fitnah dengan sangat semena-mena, dia jadi tidak takut, “Apa maksud lo!?Kapan gue pernah dateng ke sini nyariin elo!? Siapa lo aja gue nggak tau.Jangan sembarangan dong lo! Dia marah-marah sama gue!” Tangannya menunjuk muka Zevana, dekat dan lurus-lurus. “Nuduh gue macem-macem. Gue udah punya cowok,tau! Ngapain juga gue ngerebut pacar orang!?”
Ify menarik Agni keluar dari kerumunan. Keduanya semakin memasang tampang se-innocent mungkin. Saat suasana kisruh begitu, Sivia menunjukkan satu poin lebihnya sebagai cewek yang dibesarkan di lingkungan aristokrat tulen. Dengan suara anggun, tenang, dan berwibawa, dipotongnya omelan Dea yang sudah seperti petasan renceng saking emosinya.
“Kita ngomong di tempat lain. Bisa ditahan emosinya sebentar, kan?”
Sivia, Alvin, sang “Sephia” Zevana, dan si “kambing hitam malang” Dea, lalu pergi entah kemana.
“Alviiin…Alvin… Ada-ada aja!” Cakka tertawa geli. Di sebelahnya, Rio menyeringai lebar. Tertawa tanpa suara.
“Ada apa sih? Siapa tuh cewek?” Tanya Ify dengan ekspresi muka setenang pemukaan danau pada saat angin malas bertiup.
“Nggak tau.” Kedua cowok di depannya geleng kepala bersamaan.
Lama juga. Setengah jam lebih baru Alvin kembali dan langsung menghampiri Ify.
“Bukan dia, lagi!” desisnya dongkol.
“Yaaa, sori deh, Viiiin…,” Ify berlagak menyesal telah salah tunjuk. “Abisnya gue lupa-lupa inget tampangnya. Namanya juga baru ngeliat sekali.”
“Kenapa nggak lo cari sendiri?” tanya Rio tajam. Tidak terima ceweknya disalahkan.
“Ck!”Alvin berdecak. Ingin marah tapi tidak tahu harus ke siapa. “Lo pada pulang duluan deh. Gue masih ada urusan!”
“Oke!”Cakka mengangguk, menahan tawa. “Udahlah, nggak usah disesalin. Dari dulu gue udah bilang, mendingan kayak gue. Punya belang kasih liat aja. Daripada kebongkar begini.”
“Dasar babon!” bisik Agni di kuping Ify.
“Yuk, balik! Balik!” ajak Rio sambil meraih tangan Ify. Berempat, kemudian mereka tinggalkan tempat itu. Juga Alvin yang mukanya lecek berat.
***
Ify baru pulang dari rumah Shilla bersama Agni, menyampaikan perkembangan heboh itu, waktu ibunya bilang bahwa seharian Sivia bolak-balik menelepon. Ify dan Agni saling pandang sesaat, lalu buru-buru berlari ke meja telepon.
“Kenapa dia nggak telepon ke HP sih?” ucap Ify sambil memutar nomor.
“Berarti dia shock berat, Fy. Sampe jadi bego!” jawab Agni sambil menarik kursi rapat-rapat ke sebelah Ify.
“Halo?Juminem? Ndoro Gusti kamu ada nggak? Ini dari Yang Mulia Ndoro Gusti Ify!”
“Elo, Fy!” Agni terkikik, tapi buru-buru menutup mulut. Takut terdengar orang disebrang.
“Halo?Ada apa, Vi?Kata nyokap gue, lo bolak-balik nelepon…? Iya, gue abis nganterin Agni. Lo kan tau dia paling nggak bisa kalo ngeliat ada kaus yang lucu. Pasti pengen punya… Oh, iyalah. Kaus ditoko. Bukan di jemuran orang. Kalo itu sih gue ogah nemenin. Bukan apa-apa.Tanggung soalnya kalo Cuma kaus. Mending sekalian sama jins atau seprai, gitu.Apalagi kalo bisa dapet baju pesta. Lumayan banget tuh!”
Sampai disitu, omongan Ify terputus tawa berderai Agni. Sementara Sivia Cuma tersenyum tipis. Sudah tidak kaget lagi dengan mulut Ify yang memang sering ngaco.
“Itu,Fy… waktu ke rumah gue itu, lo sebenernya mau ngomong apa?”
“Oh, yang waktu itu? Nggak. Gue Cuma mau ngasih tau lo aja, cowok-cowok itu ternyata pada bohong. Selama ini kan mereka selalu bilang kalo kegiatan-kegiatan itu Cuma untuk intern. Kalo nggak begitu, ya mereka ngasih alasan macem-macem deh. Kesannya orang awam gunung kayak kita-kita gini bakalan Cuma ngerepotin, nyusahin aja. Makanya gue punya rencana mau bikin mata mereka melek. Kalo Cuma naek gunung aja sih… kita juga bisa!”
“Terus?”
“Terus apanya?”
“Ya rencana lo itu.”
Sepasang mata Ify melebar. Si ningrat ini terbakar jealous juga akhirnya! Diacungkannya jempol ke Agni sambil mengedipkan mata. Lalu diubahnya suaranya seperti orang yang sudah pasrah.
“Yaaah, gimana ya? Setelah gue pikir-pikir, omongan lo itu ada benernya juga, Vi. Buat apa protes? Orang mereka dari dulu emang udah begitu. Ya udahlah. Terima aja.”
“Hmmm,begitu?” suara Sivia terdengar agak sedih, tapi Ify berlagak tidak paham.
“Iya,Vi. Begitu aja. Ngapain lagi pusing-pusing? Emang kenapa sih?”
“Nggak!Nggak apa-apa!” jawab Sivia buru-buru. “Tapi… waktu lo dateng ke rumah gue itu…lo udah punya rencana mateng atau baru gagasan?”
“Ya jelas planning mateng dong.”
“Besok pulang kuliah lo langsung ke rumah gue ya? Gue pengen tau.”
“Buat apa? Kan nggak jadi?”
“Nggak apa-apa. Gue Cuma pengen tau aja. Ya?”
“Iya deh. Terserah elo.”
Telepon di sebrang di tutup. Ify langsung tertawa keras-keras.
“Berhasil, Ag! Jealous juga dia akhirnya. Emangnya enak, dibohongin di belakang? Besok kita disuruh ke rumahnya. Di mau nanyain soal rencana gue itu!”
***
Jam dua belas tepat, kuliah hari ini berakhir.
“Makan siomay dulu yuk, Fy? Dari semalem gue belum makan nih. Terus abis itu kita makan dulu rujak sebentar.”
“Rujak melulu lo. Diare baru tau rasa. Kita makan di rumah Sivia aja. Pasti deh ntar ditawarin makan.”
“Tidak!Cukup sekali!”
Ify tertawa. Dia tahu kenapa Agni ogah. Mereka memang pernah makan malam di rumah Sivia. Sekali. Namanya ditawari makan, jelas saja langsung mereka sambut dengan girang. Barangkali saja mereka akan menemukan masakan zaman kerajaan-kerajaan dulu.
Tapi ternyata, suasana di meja makan di rumah Sivia jauh lebih khidmat daripada upacara tujuh belasan di Istana Negara! Mirip di film-film horror, begitu hening dan sunyi mencekam! Hanya bunyi desau-desau angin yang menggoyang pucuk-pucuk dedaunan di luar sana.
Gimana nggak? Makan tidak boleh sambil ngomong, apalagi cekikikan kayak kuntilanak.Mulut juga harus tetap ditutup. Bibir harus rapat dan baru boleh dibuka kalau makanan mau masuk. Saat sendok beradu dengan garpu atau piring, tidak boleh sampai mengeluarkan suara. Dan makannya juga harus sampai benar-benar bersih.Satu butir nasi pun tidak boleh ada yang tertinggal.
Alhasil,dimana-mana yang namanya habis makan kan biasanya jadi kenyang. Tapi kalau di rumah Sivia, habis makan malah jadi…puyeng!
Sementara itu Sivia sedang melamun di teras rumahnya, menunggu. Ini pertama kalinya dia membuka diri. Tadinya dia berpikir, dirinya takkan pernah membutuhkan Ify dan Agni. Karena di mata Sivia, dua cewek itu benar-benar cewek kasar! Tipikal masyarakat golongan kasta rendah. Urakan, tidak tahu tata karma. Kalau bicara seenak udel. Ketawanya juga mirip Buto Ijo! Kalau bercanda tidak peduli tempat,tidak peduli situasi. Meskipun sedang makan, mulut penuh, keduanya bisa saling mencela dengan sangat seru dan riuh.
Dan yang sempat membuat Sivia shock, tiba-tiba saja dia dianggap bukan siapa-siapa.Ify dan Agni sama sekali tidak terkesan dengan darah biru tulen dan gelar kebangsawanan di depan namanya. Boro-boro hormat seperti kebanyakan orang memperlakukan dia dan keluarganya. Memandangnya saja dengan sebelah mata.
“Permisiii…”
Sivia tersentak dari lamunan. Dia berdiri dan segera melangkah menuju pintu gerbang.
“Masuk,”ajaknya. Ify dan Agni melangkah masuk dengan tertib lalu duduk dengan sopan dikursi teras.
“Makan dulu yuk? Udah jam satu lewat nih”
Keduanya kontan menjawab kompak, “Nggak usah, Vi. Terima kasih. Kami udah makan kok.Nggak usah repot-repot deh.”
“Ya udah kalo begitu,” Sivia tidak memaksa. “Kita ke kamar gue aja yuk?” Dia berjalan ke dalam. Ify dan Agni buru-buru berdiri dan mengekor di belakangnya.
“Jadi rencana gue itu begini, Vi,” Ify langsung menjelaskan rencananya, setelah mereka duduk berhadapan di dalam kamar. Tentu saja dengan tidak lupa berakting seolah-olah dia sudah tidak ada niat untuk balas dendam lagi. Seperti kebiasaannya, Sivia mendengarkan tanpa menyela, sampai Ify selesai menjelaskan semuanya. “Begitu, Vi, rencana gue.”
Sivia mengangguk lambat-lambat. Ditatapnya dua wajah di depannya. Tanpa dia tahu,wajah-wajah itu Cuma polos luarnya aja.
“Kalo kita jadiin, gimana?” tanya Sivia.
“Maksudnya?”tanya Ify, dalam hati siap sorak-sorak.
“Maksudnyaaa…ya kita bikin mata mereka melek!”
Wajah-wajah di depannya langsung tersentak dan menatapnya lurus. Tidak percaya.
“Bener nih? Lo setuju?” seru Ify tertahan.
“Iyadong! Cowok-cowok kita kanpada kompak. Jadi kita harus kompak juga!”
************************************


