~Langen = Ify
~Fani = Agni
~Febi = Sivia
~Rei = Rio
~Bima = Cakka
~Rangga = Alvin
**************************************************************************
Pintu dan semua jendela sekretariat Maranon,organisasi pecinta alam Universitas Sagarmatha, tertutup rapat saat Ify dan Agni tiba sore itu. Kedua cewek itu tidak bisa mengetahui apa yang sedangterjadi di dalam ruangan, karena seluruh tirainya membentang, menutupi semua jendela yang ada.
“Rapat lagi kayaknya nih!” desis Ify jengkel. “Gimana, Ag?”
“Tungguin ajalah,” kata Agni. Tidak tega mau ngajak Ify pulang.
Tapi setelah keduanya menunggu berjam-jam sampai nyaris lumutan,begitu pintu itu terbuka, eeehh… orang yang ditunggu dengan enteng malah menyuruh mereka pulang. Setelah sempat terperangah di ambang pintu, dengan langkah-langkah cepat Rio segera menghampiri Ify dan Agni yang duduk bersila di lantai koridor.
“sori, Fy. Aku ada rapat. Sampe malem kayaknya. Kamu nggak apa-apa kan, pulang sendiri?” ucapnya tanpa rasa bersalah. Jelas Ify langsung emosi.
“Nggaaak. Nggak apa-apa kok. Rapat aja lagi… sampe besok. Tanggung kalo Cuma sampe malem!”
“sabtu depan kita jalan. Aku janji”
“sabtu kemaren kamu juga ngomongnya begitu!”
“Sabtu kemarennya lagi juga!” Agni langsung menimpali.
“Juga sabtu kemarennya dan kemarennya daaan kemarennya!”
Rio nyuekin celetukan Agni.“Tapi sabtu depan bener, Fy. Janji!” tegas Rio.
“Siapa yang percaya?” sentak Ify. “Pulang yuk, Ag!”
“Fy, please? Jangan ngambek gitu dong.” Rioburu-buru meraih tangan Ify, tapi langsung ditepis oleh si pemilik tangan.
“Aku nggak ngambek! Aku marah, tau!” Ify hampir menjerit.
“Tapi aku janji…”
“Nggak! Aku nggak mau denger!”
Harapan Rio langsung beralih ke sahabat karib Ify.
“Ag, tolong jelasin ke Ify, ya? Sabtu depan bener!”
“Elo jelasin sendiri. Enak aja. Lagian juga paling lo bohong lagi.Kayak gue nggak tau elo aja!” tolak Agni mentah-mentah.
“Sori ya, sayang? Aku nggak bisa dateng lagi nih…” Cakka, sahabat Rio yang sejak tadi hanya berdiri diam di ambang pintu,menatap Agni dengan ekspresi “betapa apa yang baru saja dikatakannya tadi telah membuat hatinya sangat sedih”. “Padahal aku kangeeen banget sama kamu”.
“Ih!” Agni langsung buang muka. “Siapa juga yang ngarepin lodateng?”
Cakka jadi tertawa geli. Kalau saja di sekitar mereka tidak banyak orang, pasti sudah dibekapnya cewek yang telah berhasil dipaksanya untuk jadi pacarnya yang teranyar itu. Lalu diberinya satu ciuman!
Terpaksa Rio dan Cakka membiarkan Ify dan Agni pergi dari hadapanmereka.
***
“Mereka emang gitu, Fy. Udah… nggak usah dipusingin,” hibur Agni,ketika mereka sudah meninggalkan sekretariat Maranon.
“Iya sih, tapi yang bener aja dong! Udah berapa kali malem minggu,coba? Tiap Sabtu-Minggu pasti ada acara. Datengnya malah Malem Jumat. Emangnya gue sundel bolong?”
Agni meringis. Tiba-tiba disikutnya pinggang Ify.
“Liat, tuh. Si Gusti Randa Ajeng Sivia.”
Ify melirik sebal. Raden Ajeng Sivia Kesumoningrat atau yang biasadipanggil “Sivia” itu ceweknya Alvin.Alvin itu ya masih komplotannya cowok dua tadi. Sivia termasuk cewek antik. Masih trah bangsawan atau ningrat. Katanya sih dia dan keluarganya masih keturunan langsung prabu siapa, gitu. Dibilang antik, soalnya itu cewek lembutnya minta ampun. Jalannya luamaaa. Ngomongnya juga pelaaan. Dan yang paling aneh, kalau ketawa nyaris tanpa suara! Itu juga jarang. Paling sering Sivia Cuma senyum-senyum doang.
“Mau ikut jalan, Vi? mending malem Minggu-an sama kami, daripada bengong sendirian”
“Aku mau kursus nih. Maaf ya,” tolak Sivia halus. Lalu dengan santun dia pamit.
“Sebel banget gue sama tuh cewek. Sok bangsawan banget!” dengusIfy.
“Iya emang!” Agni mengangguk. “Tau gitu kenapa lo ajak dia tadi?”
“Basa-basi doang. Nggak bakalanlah dia mau. Ntar bisa turun diapunya kasta!”
“Lagian juga dia pasti bohong. Kursus apaan Malem Minggu gini?”
“Kursus masang konde, kursus pake kebaya, sama kursus ngeracik jamu-jamuan,” dengus Ify lagi.
Agni terkekeh geli.
Ify berdecak. “Kalo gue pikir-pikir, tuh cowok tiga kurang ajarbanget deh. Seenaknya sendiri aja. Mereka pikir kita tuh apa sih?”
“Ah, udah deh… nggak usah dipikirin. Mendingan kita jalan-jalan.”Agni merangkul bahu sahabatnya dan membawanya ke tempat parkir utama kampus, didepan gedung rektorat, tempat Ify meninggalkan Kijang-nya tadi siang.
***
Senin siang, di tengah ruang sekretariat Maranon,Lintar, salah seorang anggotanya, sedang duduk di salah satu meja. Menghadap keseisi ruangan.
“Waktu SMA, gue pernah bikin acara marathon gunung. Khusus yang tingginya di atas tiga ribu DPL. Waktu itu lima gunung. Start di Pangrango, lanjut keCireme, nyambung ke Slamet, terus ke Sumbing, dan finish di Merbabu. Serubanget, gila! Yang berhasil ngabisin lima-limanya Cuma tujuh orang. Padahal pesertanya hampir empat puluh. Usul gue, gimana kalo kita bikin acara kayakgitu? Nanti libur semesteran. Biar tambah seru dan dahsyat, kita abisin Pulau Jawa! Gue udah ngitung, semuanya ada sekitar sebelas gunung. Gimana?”
Wajah-wajah di sekitarnya menatap ternganga. Lalu…
“SETUJUUUU!!!”
Gemuruh teriakan membahana seketika. Membuat sekretariat Maranon tenggelam dalam ingar-bingar.
“Dan usul gue lagiii…!!!” seru Lintar. Dipukul-pukulnya whiteboard dengan batang kayu. Ruangan mendadak sepi. Semua kepala menoleh ke arahnya.“Minggu ini kan ada libur dua hari. Tiga hari sama hari Minggu-nya. Gimana kalo kita pemanasan?Maraton Salak-Gede-Pangrango?”
Dan lagi-lagi…
“SETUJUUUU!!!”
Kembali ruangan itu dipenuhi suara riuh. Di salah satu sudut, tigacowok sibuk mendiskusikan bagaimana caranya memberi tahu cewek masing-masingbahwa –Sialnya lagi-lagi!- malam Minggu ini terpaksa absen!
Rio yang paling pusing. Diasudah bisa menebak seperti apa respon Ify nanti. Cakka sebaliknya, justru kecewa. Karena dia tahu benar, Agni pasti benar-benar bersyukur dia tidak muncul. Sementara Alvin seperti biasa, tenang. Karena Sivia-nya yang tersayang adalah cewek aristokrat yang tidak pernah diajar untuk menuntut. Jadi aman.
***
“Alasan baru lagi, kan?Selalu aja gitu. Minggu besok mau ke sini. Minggu depannya mau ke situ. Ke sana. Kemari. Selalu aja ada acara. Dan semuanya penting. Nggak ada yang nggak penting!” Ify langsung berseru jengkel begitu tahu maksud kedatangan Rio.
Rio berdiri, mendekati ceweknya yang sedang cemberut berat itu lalu memeluknya dari belakang dengan mesra. Disandarkannya dagunya di bahu Ify, kemudian diberikannya Ify satuciuman di pipi, begitu lembut dan penuh cinta. Harus begitu memang kalau tujuannya ingin tetap bisa tercapai seperti kemarin-kemarin. Meninggalkan Ify di rumah… lagi!
“Kalo dipikir-pikir… aku egois banget, ya?” bisiknya. Menuduh dirisendiri dulu biar kesannya sadar kalau bersalah.
Basi! Dengus Ify dalam hati.
“Tapi kamu tau nggak, kenapa aku nggak pernah ngajak kamu? karena gunung bukan tempat yang aman buat cewek. Banyak bahayanya. Binatang buas,misalnya.”
“Kamu kok nggak kenapa-kenapa?”
“Aku cowok, Fy”
Nah, ini! Ucap Ify dalam hati. Terus kenapa kalo cowok? Emangnya macan nggak doyan cowok, apa? Nggak masuk akal banget alasannya!
“Belum lagi dinginnya yang gila-gilaan. Lagian ini bukan kegiatan untuk pemula. Bukan sekedar hiking. Ini latihan fisik. Jadi sifatnya jugaintern.”
Pelukan Rio makin menguat. Dibenamkannya tubuh Ify dalam pelukannya. Satu ciuman lembut dia berikan untuk bibir cemberut Ify. Tapi cewek itu sudah tidak terpengaruh. Sudah bosan! San! San! San…! Lagu lama!
Medannya beratlah, bukan buat pemulalah, internlah, bahayalah, dan masih buanyak lagi alasan lainnya. Tapi intinya Cuma satu. Riotidak ingin dia ikut! Itu saja. Tapi ngomongnya repot.
Melihat Ify diam, Rio mengira lampu hijau telah menyala. Meskipun nggak hijau-hijau amat. Menurut Rio, tempat terbaik cewek memang di rumah. Di dekat ayah-ibu, juga saudara-saudara!
Harap dicatat!
***
Di rumah Agni, Cakka juga sedang menjelaskan bahwa hari Sabtu danMinggu besok dia “terpaksa” absen lagi. Tapi cowok itu tahu, penjelasannya itu sebenarnya percuma, karena Agni justru akan sangat bersyukur kalau dirinya tidak muncul. Telat datang menjemput saja, cewek itu sudah langsung lenyap.Telepon ke rumahya sering dibilang tidak ada, sementara langsung ke ponsel Agni lebih sering jadi usaha sia-sia. Dibanding cewek-cewek Cakka terdahulu, baru ini yang benar-benar bertingkah. Membuat Cakka jadi sering senewen.
“Kok dateng? Ini kan malem Selasa? Nggak punya kalender ya?”
Cakka menatap wajah sang nona rumah yang sama sekali tidak welcome itu.
“Ada yang mau aku omongin, Ag. Coba tolong duduk,” ucapnya lembut. Agni duduk ogah-ogahan. Cakka berdehem. Menyetel tampang sedih dulu, biar lebih meyakinkan.
“Malem Minggu besok kayaknya aku nggak bisa dateng lagi, Ag.Soalnya…”
“Aaaah, nggak apa-apa”
Belum juga Cakka selesai bicara, sudah dipotong. Tapi disabarkannya hati dan diteruskannya kalimat yang terpenggal.
“Maranon ada acara…”
“Iya. Nggak apa-apa…”
Dipotong lagi! Cowok itu mendesis jengkel. Dua mata elangnya mulai menajam. Tapi Agni menentang tatapan itu dengan berani. Iyalah, di rumah. Coba di luar? Tidak bakalan cewek itu punya nyali!
“Bisa aku ngomong sampe selesai?”
“Nggak usah. Aku udah tau. Maranon ada acara kan sampe malem Minggu besok? Makanya elo,eh, kamu nggak bisa dateng. Mau acaranya apa kek, pokoknya ada acara aja!”
“Nggak pengen tau acaranya?”
“Nggak!”
“Tapi aku pengen ngasih tau!” tandas Cakka.
“Tapi aku nggak kepengen tau, tauuu!” Tolak Agni. Tandas juga.
Sepasang mata Cakka berkilat. Tapi dia tidak menyerah. Cewek dihadapannya ini harus tahu dengan siapa dia pacaran. Cowok yang digilai banyak cewek! Kurang ajar benar kalau matanya terbuka satu pun tidak!
“Jangan kamu kira kalo pergi-pergi begitu aku enjoy, Ag,” katanya bohong. “Nggak sama sekali. Soalnya, selalu aja ada cewek yang harus aku jaga.Oik, Keke, Acha, Oliv. Banyak. Apalagi Stella. Dia juga nggak pernah absen. Selalu ikut setiap kegiatan Maranon dan selalu aja sakit.”
“Kenapa?” tanya Agni tanpa minat.
“Macem-macem keluhannya. Pusing, perut mual, dada sakit. Malah tuh cewek sering pingsan.”
“Ya nggak apa-apa. Namanya juga temen lagi sakit. Masa mau dicuekin?”
“Bikin repot, Ag. Karena harus selalu dijaga.”
“Ya nggak apa-apa. Nolongin orang itu banyak pahalanya. Ntar kalo mati, kamu bisa langsung masuk surga.”
Agni tetap tidak terbakar cemburu sedikitpun.
“Tapi aku jadi ingat cewek yang kutinggal di rumah.”
“Aku rasa mama kamu pasti setuju. Kakak kamu juga. Adik kamu juga pasti.”
“Aku lagi nggak ngomongin cewek di rumahku! Nggak usah pura-purabego, Ag!” akhirnya Cakka nggak bisa menahan geram.
“Oh… jadi maksud kamu tuh aku?” Agni menunjuk dadanya. “Aaah kalo aku sih kayak gitu-gitu no problem. Aku orangnya santai kok. Fleksibel, pengertian.Semua tindakan kamu nolong-nolong tadi, aku dukung seratus persen!”
Cakka menarik napas panjang. Lagi-lagi berusaha menyabarkan hati.Tapi wajah menjengkelkan di depannya membuat cowok itu akhirnya mengarang satu cerita yang benar-benar panas.
“Kalo masih wajar-wajar kayak gitu sih emang nggak masalah. Tapi kalo udah sampe nggak wajar…?” diangkatnya alisnya tinggi-tinggi. “Bukan Cuma cewek yang mesti jaga diri. Cowok juga!”
“Maksudnya?” Agni tidak mengerti.
“Maksudnya…” Cakka memajukan badannya. Ditatapnya Agni lurus-lurus. “Sampe ada yang nekat bugil di depanku!”
“HAAAA!?” Cakka berhasil kali ini. Cewek di depannya kontan kagetbanget. Gila asli! “Siapa!? Siapa!?” Seru Agni seketika.
“Nggak penting itu siapa.”
Cakka tidak bohong. Memang pernah ada cewek yang melakukan aksi bugil di depannya. Mantan istri Bruce Willis, Demi Moore. Dan si pirang seksi yang memang tidak tahu malu. Madonna.
Tapi cowok itu jelas tidak bersedia memberitahu. Dibiarkannya Agni tercengang dengan dugaannya sendiri. Dan orang yang ketiban sial disangka bugil adalah Stella. Soalnya cewek satu ini memang sudah kondang. Centil, suka overacting, dan kalau pakai baju selalu ngablak. Perutnya adalah pemandangan yang sudah biasa di kampus. Belahan dadanya apalagi.
“Stella pasti!” desis Agni. “Iya, kan?”
Stella? Cakka hampir tertawa. Cewek yang badannya setipis tripleks begitu? Siapa yang tertarik melihat, walaupun dipampang di depan mata? Soalnya sudah bisa dipastikan, tidak ada pemandangan yang bisa menyehatkan saraf mata.
“Tapi nggak mungkin. Bohong kamu! Ngarang! Aku tau tuh cewek emang gila. Tapi nggak mungkinlah otaknya sampe korslet banget gitu!”
“Kenapa aku mesti bohong?” Tanya Cakka kalem. “Kenapa mesti ngarang cerita? Tanya aja sama orangnya kalo nggak percaya!”
Maksud Cakka, tanya sama Demi Moore atau Madonna. Tapi karena dari awal sudah miskomunikasi alias mis-objek pembicaraan, kalimat itu membuat Agni yakin Stella-lah yang telah melakukan aksi bugil di depan Cakka. Dan makin shock-lah dia tanpa bisa menyembunyikan ekspresinya. Dengan puas Cakka menikmati keterperangahan itu.
“Sampe begitu, Ag! Tapi aku tetep inget cewek yang kutinggal dirumah. Yang sekarang ini duduk di depanku. Yang selalu aku bawain edelweis tapi nggak pernah bilang terima kasih. Yang kalo aku telepon sering dibilang nggak ada. Yang kalo aku dateng jarang disambut dengan manis. Tapi tetep…,” sepasang mata Cakka berubah lembut, “Aku nggak akan bikin dia menangis!”
***
Agni langsung lari ke meja telepon begitu Cakka pulang, karena ada hal mahagawat yang harus disampaikannya pada Ify dengan segera. Tapi ternyata sahabatnya itu telah berpesan kepada seisi rumahnya bahwa dia benar-benar tidak ingin diganggu. Sementara ketika dicobanya menghubungi Ify via ponsel, tidak aktif. Terpaksa Agni hanya bisa menunggu, dan langsung terbirit-birit begitu telepon berdering.
“Ya ampun, Fy! Elo ngapain aja sih?”
“Gue marah banget, Ag!”
“Mereka kan dari dulu emang gitu. Nggak bisa libur lamaan dikit.”
“Tapi nggak bisa gitu terus dong! Emangnya mereka nganggap kita tuh apaan? Nggak ada jalan lain. Kita harus balas dendam! Tadi waktu semedi gue udah nemu caranya. Tapi kita ngomonginnya di tempat Sivia aja.”
“Di rumah Sivia? Ngapain disana? Elo kan tau dia orangnya ngeselin.”
“Justru itu! Mau nggak mau kita harus ngajak dia. Bahaya kalo nggak.”
“Emang elo mau ngomongin apa sih?”
“Ya masalah ini. Kita harus balas dendam. Harus bikin perhitungan!Santai aja mereka, pergi-pergi melulu, tapi nggak pernah ngajak kita satu kalipun!”
“Sivia mana mau, lagi?”
“Kita hasut sampai mau!”
Agni diam, berpikir. Tiba-tiba dia ingat tujuannya menelepon Ify.“Oh iya! Bilangin Sivia juga kalo setiap mereka pergi, Stella pasti ikut! PastiSivia langsung panas. Nggak perlu dihasut lagi.”
“Stella? Masa? Orang badannya kayak keripik gitu? Mana kuat naikgunung?”
“Tapi katanya Cakka gitu, Fy. Kalo anak-anak Maranon bikin acara, si Stella pasti ikut.”
“Hah?!” sepasang mata Ify kontan melotot bulat-bulat. “Masa sih,Ag?”
“Iya! Gue juga taunya barusan, waktu Cakka kesini. Sekarang yang jadi masalah bukan kerempengnya. Nekatnya itu lho. Elo tau sendiri kan Stella nekatnya gimana kalo udah seneng sama cowok. Kejar pantang malu! Mau tuh cowok udah punya cewek kek, bodo amat dia!”
“Pantesan aja mereka mati-matian nggak mau ngajak kita. Kasih alasan ini-itu. Bukan buat pemula-lah, internlah. Emangnya si Stella itu udah pakar, apa? Lagian dia juga bukan anggota Maranon.Orang Maranon nggak punya anggota cewek.Dasar! Kurang ajar! Jadi gitu ceritanya?!” desis Ify berang.
“Dan ada berita yang lebih menggemparkan lagi, Fy!”
“Apa tuh!? Apa!? Apa!?”
“Aksinya Stella udah makin nekat. Sekarang dia udah sampe pake atraksi… Siap-siap, Fy…! BUGIL!!!”
“HAAA!?” Ify menjerit gila-gilaan. Lalu… bruk! Cewek itu terjatuh gara-gara tulang keringnya terantuk telak-telak saat akan memutari meja telepon. “ADOOOH!” kontan dia menjerit kencang lagi. Lalu hening.
“Ify? Fy? Elo kenapa? Heh? Lo mati ya? Ify? Halo? Halo?” Panggil Agni. Sambil tengkurap, Ify meraih gagang telepon yang tergantung-gantung.
“Sori aja ya kalo gue mati gara-gara Stella!”
“Nah tadi lo kenapa?”
“Tulang kering gue kena meja, gara-gara kaget. Eh, Stella bugil dimana? Di toilet, kan?”
“Kalo di toilet, gimana Cakka bisa tau?”
“Haaah!?” Ify berdecak. “Ini bener-bener gaswat! Bener-bener bahaya besar! Nggak tau malu banget tuh cewek! Dasar nggak bermoral!”
“Makanya! Ntar kasih tau tuh si Sivia!”
***
Ini part satunya.. oh iyaa aku ngepost ini gak ijin dulu -_- abissusah deh kayaknya (?)
INI KARYA ESTI KINASIH yaa :) JADI AKU GAK NGAKU NGAKU INI KARYA AKU

Ini part satunya.. oh iyaa aku ngepost ini gak ijin dulu -_- abissusah deh kayaknya (?)
INI KARYA ESTI KINASIH yaa :) JADI AKU GAK NGAKU NGAKU INI KARYA AKU

Tidak ada komentar:
Posting Komentar