Sabtu, 22 Februari 2014

CEWEK!!! VERSI IC PART 2*REPOST NOVEL BY ESTI KINASIH

Begitu mendapatkan hot news yang benar-benar hot itu, dengan penuh semangat Ify dan Agni segera meluncur ke rumah Sivia. Keduanya sudah sangat yakin bahwa berita menggemparkan itu juga akan membuat Sivia tercengang. Dan Sivia tidak akan lagi berpihak kepada Rio dan kedua sobatnya, Cakka dan Alvin.
Perlu diketahui, sudah lama Ify melancarkan aksi protes soal terlalu seringnya Rio cspergi ke A, B, C, D, E, dan ke banyak tempat lagi, tanpa satu kali pun maumengajak. Hanya membawa oleh-oleh cerita, itu pun sering kali tidak lengkap.Sangat tidak lengkap malah. Tapi bukannya membela Ify dan Agni yang notabene sesama cewek, Sivia justru selalu berada di pihak Rio cs. Gimana aksi kedua cewek itu tidak selalu gagal kalau hasil akhir voting selalu dua lawan empat!
Mending kalau Sivia mendukungnya Cuma dengan ngomong ‘iya’ atau anggukan kepala. Sivia tuh selalu saja memberi nasihat. Selalu saja memakai wejangan. Gimana kekalahan tidak menjadi semakin telak, dinasihatinya panjang-panjang soal kodrat laki-laki dan perempuan di depan cowok-cowok yang justru anti-emansipasi!
“Ternyata mereka selama ini bohong, Vi. Katanya nggak pernah ada cewek yang ikut. Nggak taunya banyak. Apalagi Stella. Tuh cewek nggak pernah absen! Iya kan, Ag?” kata Ify.
“Bener banget!” tandas Agni langsung.
“Dan cewek-cewek yang ikut itu ternyata juga bukan yang model-model Angel atau Nova,gitu. Bukan cewek-cewek macho. Mereka sama aja kayak kita.fisiknya pas-pasan.Makanya selalu aja ada yang sakit. Malah ada yang sampe pingsan!” Ify meneruskan hasutannya.
“Betul!”tandas Agni lagi.
“Dansi Stella itu pakarnya pingsan, Vi. Apalagi di depan cowok yang diincer. Waaah,pingsan mulu dia! Biar ditolongin, diperhatiin, dijagain. Dan lo tau sendiri kan, kalo cowok udahsampe ditaksir sama cewek satu itu? Wassalam! Udah nggak bisa diapa-apain lagi.Tinggal bisa didoain doang, semoga tahan godaan.”
“Tapi gue nggak percaya Alvin akan begitu,” Ucap Sivia tenang.
“kita bukan lagi ngomongin Alvin,Vi. Tapi Stella! Steeella! Kita kudu jaga-jaga. Itu maksud gue!”
“Jaga-jagakan bukan berarti kita harus ikut. Ya kayak yang lo bilang tadi. Di doain. Gue rasa cukup. Malah lebih manjur.”
Didoain doang!? Ify melotot. Ini anak udah kayak emak-emak aja!
“Longgak takut, Vi?”
“Nggak.”Sivia geleng kepala.
Ify berdecak. Saling pandang dengan Agni. Sudah waktunya mengeluarkan hot news!
“Gue dapet informasi yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, Vi,” katanya,dengan nada sungguh-sungguh dan ekspresi muka sangat serius. “Katanya, Stella sampe pernah… bugil! Di depan Cakka!”
Sivia kontan ternganga. Tapi hanya sesaat. Setelah itu dia tersenyum geli. Hampir tertawa, tapi buru-buru ditutupnya mulutnya dengan telapak tangan.
“Siapa yang bilang begitu? Nggak mungkin itu. Pasti bohong. Isu, gosip.”
“Cakka sendiri yang ngomong, Vi. Dia cerita sama gue kok. Bener!”
“Bohong itu, Ag. Jangan percaya.”
“Tapi Cakka sendiri yang ngomong!” Agni ngotot. Kedua matanya sampai melotot.
Tapi Sivia tetap Cuma senyum - senyum. Tetap tenang. Tidak terbakar sama sekali.Benar-benar jauh dari perkiraan Ify dan Agni, bahwa dia bakalan shock apalagi pingsan, percaya seuprit juga nggak!
“Itu udah pasti berita bohong. Kalian berdua mikir dong. Emangnya itu nggak menghancurkan nama dan harga diri?”
“Tapi…”
“Udah.Udah,” potong Ify, menghentikan protes sahabatnya. “Okelah, kita anggap itu bohong. Tapi sekarang kita tau, ternyata setiap mereka pergi itu ada ceweknya!Nah, pertanyaannya…” Ify menatap Sivia lurus-lurus. “Kenapa mereka nggak pernah mau ngajak kita?”
“Gue punya jawabannya.” Sivia tersenyum lebar, agak geli. “Mau denger?”
“Apa?”
Sejenak Sivia menatap ke luar jendela. Kedua temannya ini memang tidak tahu batasan.Tidak bisa mawas diri. Meskipun pacar, orang yang paling dekat, tetap ada garis yang tidak bisa dilanggar. Perempuan itu harus tahu kodrat!
“Sini ta’ kasih tau,” Sivia memulai wejangannya. “Mereka pasti punya alasan untuk nggak ngajak kita.”
“Alasannya,jelas karena mereka nggak mau direpotin! Apa lagi?” jawab Ify cepat.
“Bukan juga. Aku, eh, gue liat bukan itu. Mereka itu kan emang senengnya kegiatan – kegiatan keras begitu. Sementara kita…,” Sivia mengangkat kedua alisnya, “boro-boro!”
“Kan bisa belajar!”
“Belajar emang bisa. Tapi untuk apa, coba? Kalo tujuannya Cuma untuk menyaingi mereka,gue rasa nggak bagus. Kegiatan-kegiatan yang kayak begitu kan emang udah dunianya cowok. Kalopun ada ceweknya, itu cewek-cewek yang pada dasarnya emang bener-bener suka. Bukan karena ikut-ikutan atau punya tujuan lain. Jadi nggak usahlah kita ribut.Nuntut ini, nuntut itu. Jadi perempuan itu mesti tahu kodrat, Fy. Kamu juga,Ag. Mesti bisa mawas diri. Mesti tahu mana yang pantes dan mana yang nggak.”
Iiiuuugh!Ify mendesis pelan. Jadi tambah dongkol lagi.
“Terusjuga…,” sambung Sivia. Kali ini nada suaranya sangat hati-hati. “Mereka itu kan udah semester enam,dua tahun lebih tua dari kita. Jadi elo seharusnya manggil Rioitu ‘Mas Rio’, Fy. Elo juga, Ag, jangan panggil ‘Cakka’ gitu aja. ‘Mas Cakka’ atau‘Bang Cakka’ kalo pake adat betawi. Atau ‘Kak Cakka’-lah kalo elo malu panggil dia ‘abang’.”
Ify dan Agni sontak terperangah.
MasRio? Abang Cakka? Oh, Tuhan… berikanlah petunjuk-Mu kepada teman kami yang sungguh sangat budiman ini! Keduanya berdoa dalam hati dengan kata-kata yang nyaris sama.
Sivia kemudian meneruskan kalimatnya, tak peduli dengan sorot kengerian di dua pasangmata di depannya akibat kata-katanya barusan.
“Kita harus hormat pada orang yang lebih tua. Apalagi –kalo langgeng nih- mereka akanjadi calon suami. Dan selamanya, suami adalah tuan!”
Makin tercenganglah Ify dan Agni.
Oh,no! No! Tidak! Tidak!!!
Benar-benar deh, si Sivia ini ternyata memang produk zaman Majapahit!
***

“Sivia itu kok bisa sampe kuno banget gitu ya, Fy? Amit-amit deh!” Agni geleng-geleng kepala.
“Emang!Sebel!” dengus Ify.
“Pantesan aja Alvin cinta mati sama dia. Hari gini bo, dimana lagi bisa dapet cewek kece, tajir, tapi geblek banget gitu! Lo denger tadi? kita disuruh manggil cowok-cowok itu ‘Mas’atau ‘Abang’ ? kebayang nggak sih lo? Bang Cakkaaaa!?” Agni membelalakkan matanya lebar-lebar. “Gue pilih nyikatin Monas dari tangga paling bawah sampe ke ujung emasnya, daripada manggil Cakka ‘Abang’!”
“Iya,emang gila tuh anak!” Ify serentak bergidik. “Hampir aja gue epilepsi dengerusulnya tadi.”
“Jadi sekarang gimana nih?”
Ify mendecakkan lidah, lalu mengetukkan jari-jarinya di dasbor. Mencari akal bagaimana caranya melibatkan Sivia ke dalam rencana besar mereka. Harus! Karena kalau tidak, itu akan jadi bahaya besar. Bukan karena Sivia tukang ngadu, tapi karena cewek satu itu terlalu polos dan sama sekali tidak bisa berbohong.Selama ini dia kena hasutan Rio dan Cakka dengan gampang dan sukses. Kalau kedua cowok itu merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan cewek-ceweknya, mereka akan langsung mencari tahu lewat Sivia.Dan Sivia, dengan falsafah hidup “Bohong itu dosa”, jelas saja langsung membeberkan semua yang dia tahu.
Makanya,setelah tahu bahwa Sivia ternyata sangat “berbudi luhur” begitu, Ify dan Agni jadi ekstra hati-hati. Jangan sampai kelepasan ngomong di depannya.
“Ah,iya! Ya ampun!” seru Agni. “Gampang banget, lagi. Kita minta tolong Shillaaja.”
Ify terbelalak sesaat, lalu dipukulnya kuat-kuat jok yang didudukinya.
“Ide lo brilian banget! Puter arah, Ag. Kita ke tempat Shilla sekarang!”
“Oke,Bos!”
***

Shilla itu teman sekelas mereka waktu kelas 1 SMA. Seru banget sekelas sama dia.Mukanya sih sangat-sangat kalem. Cenderung innocent malah. Badannya juga imut,kecil.*ini gak sesuai*abaikan. Tapi, kalau kelas jadi rebut atau ingar-bingar,75 % itu pasti gara-gara dia.
Shilla langsung ketawa-ketiwi begitu Ify menceritakan maksud kedatangannya. Dia memang paling senang kalau ada yang minta pertolongan model-model begitu.
“Itu sih gampang. Urusan gini aja pake nyari gue.”
“Nggak usah sok penting deh lo!” Ify menjitak kepala temannya. “Ada alasannya kenapa kami sampai terpaksanyariin elo. Tapi itu ntar aja. Cerita lengkapnya menyusul.”
Sekali lagi Shilla memerhatikan tiga lembar foto yang tadi diserahkan Ify padanya.Foto-foto Rio, Cakka, dan Alvin.
“Okedeh!” dia acungkan satu jempolnya. “Serahin ke gue!”
***

Dua hari kemudian Shilla muncul di kampus Universitas Sagarmatha. Dia langsung menuju gedung Fakultas Ekonomi dan menghampiri tiga cewek yang sedang duduk disatu bangku panjang, dengan lagak kebingungan.
“Ehm,maaf. Fakultas Perminyakan dimana ya?”
“Di gedung belakang,” jawab Ify, pura-pura tidak kenal. Shilla memang sudah memberitahukan rencana kedatangannya lewat telepon tadi malam. Karena itu siang ini Ify dan Agni memaksakan diri bermanis-manis menemani Sivia, agar Shilla  tidak kebingungan mencari targetnya. “Cari siapa?” tanya Ify.
“Alvin”
Sepasang mata Sivia langsung melebar. “Alvin?”tanyanya.
“He-eh,”jawab Shilla centil. Membuat kedua mata Sivia jadi semakin lebar lagi.
“Alvin Jonathan Sindunata?” Sivia mulai antusias.
“he-eh.Keren banget ya namanya?” Shilla mengedipkan mata kirinya sambil senyum-senyum bangga. “Kenal juga ya? Tapi tuh cowok dari dulu emang ngetop. Wah, pokoknya udah kayak selebriti deh!”
“Mbak ini… siapanya? Dulu… pacarnya?” suara Sivia langsung putus-putus.
“Emangnya kenapa?” Shilla menatap Sivia tajam. “Dia punya pacar!?” tanyanya galak. “Awas aja kalo tuh orang sampe punya pacar!”
Muka Sivia kontan pucat. Sementara Ify dan Agni langsung bengong. Bengong sungguhan karena mereka berdua memang tidak tahu sandiwara Shilla. Soalnya semalam ditelepon, Shilla hanya mengatakan akan datang ke kampus, tanpa mau menjelaskanapa yang akan dilakukannya. “Pokoknya surprise deh!”, Cuma itu kalimat penutupnya.
“Okedeh. Makasih ya, informasinya. Yuk, dadah!” Shilla melenggang pergi. Tapi tak lama dia balik lagi. “Di mana tadi kelasnya? Saya lupa.”
“Emang belom dikasih tau!” jawab Ify agak kesal. Agni meringis. “Di gedung belakang.Yang di tempat parkirnya ada pohon cemara. Lantai tiga. Tapi biasanya dia sukanongkrong di ruang senat.”
“Okedeh. Makasih ya? Daaaaah.”
Shilla pergi. Melenggang dengan gayadibuat-buat.
“Ngapain dia nyariin Alvinya?” Ify mulai mengipas bara.
“Tautuh. Centil banget, lagi. Siapa sih tuh cewek?”Agni langsung membantu.
Sivia terus menatap Shilla dengan ekspresi muka yang susah dibaca. Tiba-tiba dia berdiri.
“Yuk!”ujar Sivia tiba-tiba.
“Kemana?” Ify berlagak bego.
Sivia tidak menjawab. Dia tidak tahu, dua orang di belakangnya mengikuti sambil meringis dan saling main mata.
Sementara itu Alvinbingung ketika tiba-tiba saja seorang cewek yang sama sekali tidak dikenalnya mendatanginya. Apalagi cewek itu bertanya dengan suara mendesah dan gaya yang begitu menggoda.
“Alvin, ya?”
“Siapalo?” tanya Alvin dengan kening berkerut.
“Kenalin,”Shilla mengulurkan tangan kanannya, masih sambil menebarkan senyum genitnya yang disambut ragu oleh Alvin,“gue kurirnya Zevana yang baru!”
Alvin tersentak. Mukanya kontan pucat dan genggaman tangannya terlepas.
“Ng…maksud lo?”
“Guedimintain tolong sama Zevana buat nyariin elo. Kalo udah ketemu, gue disuruh bilang, elo disuruh ke rumahnya. Penting katanya. Elo kemana aja sih? Sampe dia mengiba-iba ke gue dengan sangat mengenaskan, minta tolong supaya gue nyariin elo. Elo tau nggak? Itu anak sampe sakit, katanya gara-gara lo udah nggak pernah dateng lagi. Jadwal pentasnya sampe banyak yang dibatalin, tau nggak?Elo jangan gitu dong! Habis manis sepah dibuang. Elo dulu kan bilangnya cinta mati sama dia. Dan hanya maut yang akan memisahkan kalian! Gitu kan janji basi lo? Makanya sampe Zevana nyiptain tarian khusus buat elo, waktu elo lulus-lulusan dulu banget itu. Terus dia nyiptain tarian baru lagi, khusus buat elo lagi, waktu instingnya merasa sesuatu telah terjadi. Jangan bilang udah lupa deh! Jadi…” Shilla sengaja memenggal kalimatnya untuk meningkatkan intensitas ketegangan di sekitarnya. “Elo ditunggu. Secepatnya!”
Alvin semakin pucat. Gelisah diliriknya sekeliling.
“Yaudah. Cuma itu doang. Oke, ya? Bye!” Shilla langsung balik badan. Alvin buru-buru mencekal satu tangannya. Tapi cepat dia lepaskan lagi saat tidak sengaja menoleh, mata dingin Sivia menyorot tajam. Akhirnya cowok itu bingung mau ngomong apa.
“Apaaa?”tanya Shilla pura-pura tak sabar. “Sori nih, gue buru-buru banget. Mendingan lo temuin aja deh tuh… si Zevana. Dia nyari-nyariin lo udah dari kapan tau. Ntar gue dikira nggak usaha, lagi. Oke? Dateng bener lho ya. Jangan sampe nggak.Kasian dia. Ntar dia sakit lagi.” Ditepuknya satu bahu Alvin, lalu buru-buru pergi. Tinggal Alvin berdiri kikuk di tengah lima orang yang menatapnya dengan sorot mata yang semakin tidak mengerti.
“Siapa,Vin?” tanya Cakka.
Alvin langsung memberi isyarat untuk tidak bertanya. Lembut, digamitnya lengan Sivia.
“Kita perlu ngomong, Vi,” katanya halus. Dan dibawanya Sivia pergi dari situ.
***


Followme on twit
@SilviaNRG :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar